Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) secara resmi memulai latihan militer di Selat Hormuz pada Senin (16/2), sebagai bentuk unjuk kekuatan strategis di tengah meningkatnya kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Latihan ini berlangsung hanya sehari sebelum delegasi tingkat tinggi Teheran dijadwalkan bertemu dengan perwakilan Washington di Jenewa untuk melanjutkan negosiasi nuklir yang sempat terhenti.
Eskalasi Militer di Jalur Logistik Energi Global
Latihan yang diawasi langsung oleh Kepala IRGC, Jenderal Mohammad Pakpour, difokuskan pada peningkatan kemampuan reaksi cepat terhadap potensi ancaman keamanan. Selat Hormuz merupakan titik krusial dalam geopolitik energi, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi jalur air sempit tersebut setiap harinya.
Langkah Iran ini dipandang sebagai respons terhadap kebijakan maximum pressure yang kembali ditegaskan oleh Presiden AS Donald Trump. Saat ini, gugus tugas kapal induk USS Abraham Lincoln telah berada di wilayah tersebut, dengan rencana pengerahan kapal induk kedua, USS Gerald R. Ford, dalam waktu dekat.
Diplomasi di Bawah Bayang-Bayang Kekuatan Militer
Di saat pasukan di lapangan bersiaga, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi telah tiba di Jenewa untuk memimpin delegasi diplomatik. Araghchi dijadwalkan mengadakan pembicaraan teknis dengan Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, serta mediator dari Swiss dan Oman.
- Tujuan Latihan: Menguji kesiapan operasional IRGC dalam menghadapi blokade atau serangan maritim.
- Kekuatan AS: Pengerahan dua kapal induk kelas berat untuk mengamankan jalur navigasi internasional.
- Agenda Diplomasi: Mencari kesepakatan nuklir yang adil tanpa mengabaikan kedaulatan nasional Iran.
Araghchi menegaskan bahwa meskipun Iran terbuka untuk dialog, pihaknya tidak akan menyerah pada ancaman militer. “Kami datang dengan ide-ide nyata untuk mencapai kesepakatan yang adil, namun penyerahan diri tidak ada dalam agenda kami,” tegasnya dalam pernyataan resmi sebelum pertemuan.
Analisis mengenai pergerakan militer dan dinamika diplomatik ini didasarkan pada laporan resmi kantor berita IRIB dan pernyataan Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang dirilis hingga 17 Februari 2026.