Internasional

Iran: Otoritas Pecat Direktur TV Pasca Slogan Anti-Khamenei Tersiar di Tengah Peringatan Revolusi

Otoritas Iran resmi memberhentikan direktur stasiun televisi lokal di provinsi Sistan-Baluchistan menyusul insiden siaran langsung yang menayangkan seruan anti-pemerintah. Peristiwa ini terjadi pada Rabu, 11 Februari 2026, saat peringatan HUT ke-47 Revolusi Iran disiarkan, menyoroti sensitivitas tinggi terhadap ekspresi perbedaan pendapat di tengah dinamika politik domestik.

Insiden Siaran Langsung dan Reaksi Otoritas

Insiden bermula ketika reporter Musab Rasoulizad melaporkan suasana perayaan dan mengulangi yel-yel kerumunan. Di tengah seruan “Allahu Akbar”, Rasoulizad secara keliru mengucapkan “marg bar Khamenei” yang berarti “matilah Khamenei”. Slogan ini kontras dengan yel-yel pro-pemerintah yang lazim, seperti “matilah Amerika” atau “matilah Israel”, dan secara langsung menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Menanggapi kesalahan fatal tersebut, otoritas televisi pemerintah Iran segera mengambil tindakan tegas. “Direktur penyiaran saluran TV provinsi Hamoun telah diberhentikan menyusul kesalahan yang terjadi di jaringan provinsi tersebut,” demikian pernyataan resmi televisi pemerintah pada Rabu. Selain direktur, operator transmisi dan pengawas siaran juga diskors, sementara staf lain yang dianggap bersalah dirujuk ke komite disiplin. Langkah ini ditegaskan sebagai upaya menjaga disiplin profesional dan melindungi reputasi media negara.

Konteks Geopolitik dan Gelombang Protes

Insiden salah ucap ini terjadi beberapa minggu setelah Iran diguncang gelombang protes anti-pemerintah yang dipicu oleh kenaikan biaya hidup sejak akhir Desember 2025. Pemerintah Teheran secara konsisten mengeklaim bahwa kerusuhan tersebut merupakan tindakan teroris yang dihasut oleh pihak asing, sebuah narasi yang sering digunakan untuk menekan perbedaan pendapat internal.

Dinamika internal ini mencerminkan ketegangan yang lebih luas antara pemerintah dan sebagian populasi, terutama terkait isu ekonomi dan kebebasan berekspresi. Insiden di televisi ini, meskipun diklaim sebagai ketidaksengajaan oleh reporter Musab Rasoulizad yang kemudian meminta maaf, secara tidak langsung menyoroti kerentanan narasi resmi di tengah gejolak sosial.

Perbandingan Data Korban Protes

Terkait gelombang protes sebelumnya, data resmi pemerintah Iran mencatat lebih dari 3.000 orang tewas, termasuk aparat keamanan dan warga sipil. Namun, angka ini berbeda signifikan dengan laporan organisasi internasional. Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS melaporkan total korban tewas mencapai 7.002 orang, dengan 6.506 di antaranya adalah pengunjuk rasa. Disparitas data ini menggarisbawahi tantangan dalam mendapatkan informasi yang transparan dan akurat dari Iran.

Analisis mengenai insiden media dan konteks politik ini didasarkan pada pernyataan resmi televisi pemerintah Iran dan laporan dari Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang dirilis pada periode Februari 2026.