Internasional

Iran: Perkuat Infrastruktur Rudal dan Nuklir di Tengah Ultimatum Militer Amerika Serikat

Teheran secara agresif memperkuat infrastruktur militer dan nuklirnya di tengah pengerahan armada besar Amerika Serikat ke Timur Tengah dan ultimatum dari Presiden AS Donald Trump. Langkah ini diambil menyusul kebuntuan negosiasi antara kedua negara dan spekulasi yang meningkat mengenai potensi serangan militer Washington.

Negosiasi antara Iran dan AS telah berlangsung dua kali tanpa menemukan titik terang mengenai penurunan tensi. Pihak AS mengeklaim adanya “garis merah” yang belum disepakati Iran, mendorong Presiden Trump untuk memberikan waktu 10-15 hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan sebelum mempertimbangkan opsi militer.

Perbaikan Infrastruktur Rudal Strategis

Analisis citra satelit yang dikutip dari CNN pada Kamis, 19 Februari 2026, mengungkapkan bahwa Iran telah melakukan perbaikan signifikan pada fasilitas rudalnya yang rusak. Di Pangkalan Rudal Imam Ali di Khorramabad, citra satelit tanggal 5 Januari menunjukkan bahwa dari selusin bangunan yang sebelumnya hancur, tiga telah dibangun kembali, satu diperbaiki, dan tiga lainnya sedang dalam konstruksi. Fasilitas ini menampung lokasi peluncuran silo yang krusial untuk menembakkan rudal balistik.

Dua pangkalan militer lainnya juga menjalani perbaikan besar-besaran. Di pangkalan udara Tabriz di barat laut, yang terkait dengan rudal balistik jarak menengah Iran, jalur taksi dan landasan pacu telah dipulihkan. Sementara itu, di Pangkalan Udara Hamadan di Iran barat, kawah akibat bom di landasan pacu telah diisi dan tempat perlindungan pesawat telah diperbaiki.

Iran juga dengan cepat membangun kembali fasilitas produksi rudal propelan padat terbesar dan terbarunya di Shahrud. Teknologi ini memungkinkan pengerahan rudal jarak jauh dengan lebih cepat, meningkatkan kapabilitas responsif Iran.

Penguatan Fasilitas Nuklir Bawah Tanah

Secara paralel, Iran mempercepat penguatan beberapa fasilitas nuklirnya, menggunakan beton dan sejumlah besar tanah untuk mengubur lokasi-lokasi penting. Analisis baru dari Institut Sains dan Keamanan Internasional (ISIS) berdasarkan citra satelit beresolusi tinggi tanggal 10 Februari 2026, menunjukkan Iran terus memperkuat pintu masuk terowongan di kompleks bawah tanah yang diukir di Gunung Pickaxe dekat Natanz.

Beton baru terlihat di pintu masuk barat dan timur, meningkatkan perlindungan yang dapat membantu melindungi fasilitas tersebut dari potensi serangan udara. Truk dan peralatan konstruksi lainnya juga terlihat di lokasi tersebut. Di fasilitas nuklir yang dikenal sebagai ‘Taleghan 2’ di kompleks militer Parchin di tenggara Teheran, citra satelit yang diterbitkan minggu ini menunjukkan bahwa Iran telah menyelesaikan sarkofagus beton. Presiden ISIS, David Albright, menyatakan bahwa fasilitas itu “mungkin akan segera menjadi bunker yang sama sekali tidak dapat dikenali, memberikan perlindungan signifikan dari serangan udara.”

Restrukturisasi Komando dan Kontrol Militer

Konflik tahun lalu dengan Israel telah mengungkap kelemahan dalam struktur komando Iran di bawah tekanan, dengan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan semakin sulit dihubungi dan wewenang dialihkan ke gubernur provinsi. Sejak itu, Teheran telah memperkuat Dewan Keamanan Nasional Tertinggi yang diisi oleh orang kepercayaan Khamenei, Ali Larijani, dan membentuk otoritas baru untuk memerintah pada masa perang.

Veteran perang dan mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ali Shamkhani, yang selamat dari upaya pembunuhan oleh Israel selama perang tahun lalu, diangkat bulan ini sebagai sekretaris Dewan Pertahanan. Tujuannya adalah untuk memperkuat persiapan pertahanan secara komprehensif dan mengembangkan mekanisme untuk melawan ancaman yang muncul.

Latihan Militer dan Proyeksi Kekuatan Regional

Saat para negosiator Iran berdialog dengan AS di Jenewa, Iran melancarkan latihan angkatan laut di Selat Hormuz untuk menunjukkan kemampuan destruktifnya kepada sekutu regional Washington. Untuk pertama kalinya, IRGC menutup sebagian Selat Hormuz selama beberapa jam saat melakukan latihan angkatan laut. Titik rawan kritis ini terletak di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, tempat seperlima dari produksi minyak global harian mengalir setiap harinya.

Angkatan laut Iran juga mengadakan latihan bersama dengan Rusia di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara, menegaskan kehadiran dan kemampuan proyeksi kekuatan mereka di jalur maritim strategis.

Analisis mengenai pergerakan militer Iran ini didasarkan pada citra satelit komersial, laporan dari Institut Sains dan Keamanan Internasional (ISIS), serta pernyataan resmi yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Iran dan sumber-sumber intelijen publik.