Serangkaian serangan balasan yang dilancarkan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di kawasan Teluk telah meluas secara signifikan, mencapai Kesultanan Oman pada Minggu, 01 Maret 2026. Eskalasi ini terjadi setelah gelombang serangan sebelumnya menyasar sejumlah negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) lainnya, termasuk Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Arab Saudi, memicu kekhawatiran serius akan destabilisasi regional dan potensi konflik yang lebih luas.
Eskalasi Serangan di Oman dan Maritim
Pada Minggu, 01 Maret 2026, Kantor Berita Oman melaporkan bahwa pelabuhan komersial Duqm menjadi target dua serangan drone. Salah satu drone menghantam akomodasi pekerja bergerak, menyebabkan seorang pekerja asing terluka, sementara puing-puing dari drone lainnya mendarat di dekat tangki bahan bakar tanpa menimbulkan korban jiwa atau kerusakan material. Insiden ini menandai serangan pertama di wilayah Kesultanan Oman sejak Teheran melancarkan rangkaian operasi pembalasan terhadap aset AS dan sekutunya di Teluk. Sebelumnya, Oman dikenal sebagai mediator kunci dalam berbagai perundingan antara Washington dan Teheran, menjadikannya satu-satunya negara GCC yang tidak diserang.
Tak lama setelah insiden di Duqm, media resmi Oman kembali melaporkan serangan terhadap kapal tanker minyak di lepas pantai negara itu. Awak kapal telah dievakuasi, dan empat orang dilaporkan mengalami luka-luka dalam insiden maritim tersebut, menambah dimensi baru pada eskalasi konflik di perairan strategis.
Gelombang Serangan di Negara-negara Teluk Lain
Gelombang serangan hari kedua ini menyusul aksi Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang menyasar sejumlah negara Teluk. Ledakan terdengar di berbagai kota Teluk pada Minggu pagi, dengan koresponden AFP melaporkan dentuman di Dubai, Doha, dan Manama, Bahrain, sebelum ledakan kembali terdengar di Riyadh, Arab Saudi. Serangan ini tidak hanya menyasar instalasi militer, tetapi juga berdampak pada infrastruktur sipil vital.
Uni Emirat Arab (UEA)
Di Abu Dhabi, dua warga sipil tewas ketika Iran menargetkan pangkalan militer dan infrastruktur sipil. Kementerian Pertahanan UEA menyatakan bahwa Iran pada Sabtu menembakkan 137 rudal dan 209 drone ke berbagai target di negara tersebut. Kebakaran dan asap terlihat di sejumlah lokasi penting, termasuk kawasan tepi laut The Palm dan hotel Burj Al Arab. Bandara Abu Dhabi melaporkan sedikitnya satu orang tewas dan tujuh lainnya terluka di area tersebut, sementara satu korban lain meninggal lebih awal akibat tertimpa puing. Di Etihad Towers, seorang perempuan dan anak terluka akibat puing drone yang dicegat dan menghantam fasad bangunan. Bandara Dubai, yang merupakan bandara tersibuk di dunia untuk lalu lintas internasional, juga turut terdampak serangan.
Bahrain
Di Bahrain, drone menghantam bandara di Ibu Kota Manama pada Minggu pagi, menyebabkan kerusakan minor. Kedutaan Besar AS di Manama kemudian mengimbau warganya untuk menghindari hotel di ibu kota tersebut, menyusul laporan bahwa hotel Crowne Plaza terdampak serangan. Sehari sebelumnya di Manama, drone dan pecahan peluru juga menghantam gedung-gedung perumahan, dengan video di media sosial menunjukkan asap dan api membubung dari sejumlah bangunan tinggi.
Qatar
Di Qatar, lokasi pangkalan militer AS terbesar di kawasan, pejabat setempat menyebut Iran meluncurkan 65 rudal dan 12 drone. Sebagian besar proyektil berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, namun delapan orang dilaporkan terluka dan satu di antaranya dalam kondisi kritis. Saksi mata juga melaporkan asap membubung dari pangkalan-pangkalan AS di Abu Dhabi dan Manama, termasuk markas Armada Kelima Angkatan Laut AS.
Arab Saudi dan Kuwait
Ledakan juga dilaporkan di Riyadh, Arab Saudi, pada Minggu pagi. Sementara itu, pangkalan militer AS di Kuwait dilaporkan turut menjadi sasaran dalam gelombang serangan ini, mengindikasikan cakupan geografis operasi Iran yang luas.
Respon Internasional dan Analisis Strategis
Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, mengecam keras langkah Teheran, menyebut serangan terhadap negara-negara Teluk sebagai kesalahan perhitungan strategis. Gargash menyatakan, “Ini mengisolasi Iran pada saat yang kritis. Perang Anda bukan dengan tetangga Anda. Kembalilah ke akal sehat, ke lingkungan Anda, dan hadapi tetangga Anda secara rasional dan bertanggung jawab sebelum lingkaran isolasi dan eskalasi meluas.”
Analis keamanan Teluk, Anna Jacobs, menilai posisi negara-negara Teluk kini berada dalam situasi yang semakin sulit. Jacobs berpendapat, “Negara-negara Teluk saat ini benar-benar berada di garis depan perang brutal ini. Negara-negara Teluk, seperti biasa, ingin mendukung de-eskalasi dan diplomasi… Tetapi komitmen dan prinsip-prinsip ini sedang diuji saat ini. Jika Iran terus menyerang negara-negara ini dan meningkatkan eskalasi lebih jauh, akan sangat sulit bagi mereka untuk hanya duduk diam dan tidak melakukan apa pun.” Negara-negara Arab kaya minyak dan gas di seberang Teluk dari Iran selama ini dikenal sebagai sekutu lama Amerika Serikat dan menjadi tuan rumah sejumlah pangkalan militer AS. Situasi yang terus memanas menempatkan kawasan Teluk di ambang konflik yang lebih luas, di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Analisis mengenai eskalasi serangan ini didasarkan pada laporan Kantor Berita Oman, pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab, serta laporan koresponden AFP dan sumber keamanan regional yang dirilis pada 01 Maret 2026.