Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, pada Rabu (11/2/2026), menyampaikan permintaan maaf atas demonstrasi berdarah yang terjadi awal tahun ini. Pernyataan ini disampaikan dalam pidatonya pada peringatan Revolusi Islam Iran tahun 1979 di Teheran, di mana ia juga mengecam propaganda Barat yang tidak disebutkan secara spesifik terkait protes tersebut. Permintaan maaf ini muncul di tengah ketegangan domestik dan negosiasi program nuklir Iran dengan Amerika Serikat.
Permintaan Maaf Presiden dan Kecaman Terhadap Propaganda Asing
Dalam pidatonya, Presiden Pezeshkian mengakui kesedihan mendalam yang dirasakan oleh masyarakat akibat protes dan penindakan, meskipun ia tidak secara langsung mengakui peran pasukan keamanan Iran dalam pertumpahan darah tersebut. “Kami malu di hadapan rakyat, dan kami berkewajiban untuk membantu semua pihak yang dirugikan dalam insiden ini,” kata Pezeshkian, seperti dikutip dari Arab News. Ia menambahkan bahwa pemerintah “tidak mencari konfrontasi dengan rakyat,” sebuah pernyataan yang mengindikasikan upaya meredakan ketegangan internal.
Sikap Teheran Terhadap Tuntutan Amerika Serikat dan Program Nuklir
Pezeshkian juga menegaskan bahwa Iran tidak akan tunduk pada tuntutan berlebihan dari Amerika Serikat. “Iran kami tidak akan menyerah menghadapi agresi, tetapi kami terus berdialog dengan sekuat tenaga dengan negara-negara tetangga untuk membangun perdamaian dan ketenangan di kawasan ini,” ujarnya, seperti dilaporkan AFP. Ia kembali menegaskan bahwa program atom Iran sepenuhnya bersifat damai dan siap untuk verifikasi internasional. Pernyataan ini disampaikan di tengah proses negosiasi yang sedang berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat mengenai program nuklirnya, yang menjadi isu sentral dalam dinamika geopolitik global.
Skala Penindakan dan Dampak Terhadap Gerakan Reformis
Menurut laporan Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS, penindakan keras oleh pihak berwenang bulan lalu menyebabkan 7.002 orang tewas, termasuk 6.506 demonstran. Selain itu, setidaknya 52.941 orang telah ditangkap dalam operasi tersebut. Mereka yang ditangkap baru-baru ini termasuk tokoh-tokoh dalam gerakan reformis di Iran yang mendukung kampanye pemilihan Pezeshkian pada tahun 2024, menunjukkan dampak signifikan terhadap lanskap politik domestik.
Dinamika Sosial dan Simbolisme Protes di Peringatan Revolusi
Pada peringatan Revolusi Islam, ribuan warga memadati alun-alun di Teheran dan berbagai kota di seluruh negeri, mengibarkan bendera Iran. Beberapa warga mengacungkan gambar mantan Presiden AS Donald Trump dengan slogan “kita akan mengecewakan musuh-musuh kita.” Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, beberapa wanita yang berpartisipasi dalam demonstrasi tidak mengenakan jilbab, bahkan televisi pemerintah menayangkan wawancara dengan beberapa di antaranya. Pada Selasa (10/2/2026) malam, saat pihak berwenang menyalakan kembang api, orang-orang naik ke balkon di Teheran untuk meneriakkan slogan-slogan kebencian terhadap Ayatollah Ali Khamenei, seperti terekam dalam video yang dibagikan oleh saluran pemantau protes Vahid Online dan Mamlekate, yang diverifikasi oleh AFP. HRANA menilai, teriakan slogan-slogan tersebut menandai kelanjutan protes nasional, meskipun suasana keamanan yang berlaku dan langkah-langkah pengendalian yang meluas.
Analisis mengenai dinamika internal Iran ini didasarkan pada laporan lembaga hak asasi manusia, verifikasi media independen, serta pernyataan resmi dari Kantor Kepresidenan Iran yang dirilis pada 11 Februari 2026.