Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan telah menginstruksikan persiapan suksesi darurat dan restrukturisasi komando nasional. Langkah ini diambil sebagai antisipasi potensi serangan militer dari Amerika Serikat (AS) atau Israel yang dapat mengakibatkan kematiannya.
Latar Belakang dan Urgensi Strategis
Laporan The New York Times pada Kamis (20/2/2026), mengutip pejabat Iran, anggota Korps Garda Revolusi, dan mantan diplomat, mengungkapkan bahwa persiapan suksesi ini muncul di tengah pertimbangan opsi militer oleh Washington menyusul kebuntuan negosiasi nuklir. Situasi ini menyoroti eskalasi ketegangan di Timur Tengah dan implikasi strategis terhadap stabilitas regional.
Menurut Yeni Safak pada Senin (23/2/2026), instruksi Khamenei mencakup pendelegasian wewenang dan rantai komando untuk situasi darurat. Ini menetapkan beberapa lapis pengganti untuk posisi-posisi kunci di bidang militer dan politik, memastikan transisi otoritas pengambilan keputusan ke lingkaran terdekatnya jika komunikasi terputus atau Pemimpin Tertinggi terbunuh.
Struktur Komando Baru dan Peran Ali Larijani
Laporan tersebut juga mengungkapkan penunjukan Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, ke dalam peran manajemen pusat. Larijani kini memegang kendali atas urusan negara, termasuk penanganan demonstrasi domestik, diplomasi nuklir dengan Washington, serta koordinasi hubungan dengan sekutu strategis seperti Rusia, Qatar, dan Oman. Ia juga bertanggung jawab menyusun perencanaan perang dalam menghadapi potensi serangan AS.
Meskipun memegang peran sentral, Larijani dipandang lebih sebagai “manajer krisis” kepercayaan Khamenei daripada sebagai kandidat tunggal suksesi jangka panjang. Peran ini menggarisbawahi pentingnya kesinambungan kepemimpinan dalam menghadapi ancaman eksternal dan tantangan internal.
Postur Militer Iran dan Respon Internasional
Militer Iran saat ini berada dalam status waspada tinggi. Teheran telah mengerahkan sejumlah rudal di sekitar Irak dan Teluk Persia, serta rutin menggelar latihan militer. Dalam pernyataan publiknya, Khamenei tetap menunjukkan sikap menantang, menjanjikan pembalasan keras terhadap setiap serangan yang menargetkan kedaulatan Iran. Postur militer ini mencerminkan penilaian Teheran bahwa ruang diplomasi semakin menyempit.
Ketegangan semakin memuncak setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran hanya diberi waktu beberapa hari terkait kesepakatan nuklir, disertai peringatan keras mengenai konsekuensi jika kesepakatan tidak tercapai. Ultimatum ini menambah tekanan pada Teheran dan meningkatkan risiko salah perhitungan di kawasan.
Analisis mengenai rencana suksesi dan pergerakan militer ini didasarkan pada laporan media internasional yang mengutip sumber dari pejabat Iran, anggota Korps Garda Revolusi, dan mantan diplomat, serta pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Iran yang dirilis pada periode terkait.