Internasional

Iran Siagakan Rudal Menuju Siprus, Kecam Pengerahan Aset Udara AS di Pangkalan RAF Akrotiri

Teheran, Iran, pada Selasa, 03 Maret 2026, mengancam akan memperluas serangan ke wilayah Siprus, menyusul pernyataan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang mengindikasikan rencana peluncuran rudal. Ancaman ini muncul setelah Amerika Serikat (AS) dilaporkan memindahkan sebagian besar pesawat militernya ke Siprus, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik di kawasan Mediterania Timur.

Latar Belakang Eskalasi Ketegangan

Brigadir Jenderal Ibrahim Jabari dari IRGC, sebagaimana dikutip kantor berita Tasnim, menyatakan bahwa Iran membidik Siprus sebagai respons terhadap pengerahan aset militer AS. “Amerika memindahkan mayoritas pesawat mereka ke Siprus, dan kami akan meluncurkan beberapa rudal ke Siprus untuk memaksa mereka meninggalkan tempat itu juga,” kata Jabari. Pernyataan ini menyusul insiden serangan drone terhadap pangkalan militer Inggris Royal Air Force (RAF) Akrotiri di Siprus pada Senin, 2 Maret 2026, pukul 00.03 waktu setempat.

Presiden Siprus Nikos Christodoulides dan Kementerian Pertahanan Inggris mengonfirmasi insiden tersebut, menyatakan bahwa serangan drone Shahed itu hanya menimbulkan kerusakan ringan dan tidak menyebabkan korban jiwa. Satu drone berhasil dicegat oleh pihak pangkalan, sementara yang lain menghantam fasilitas militer. Christodoulides menegaskan bahwa semua layanan berwenang berada dalam status siaga penuh dan kesiapan operasional.

Posisi Siprus dan Inggris dalam Konflik Regional

Siprus, melalui Presiden Christodoulides, menegaskan bahwa negaranya tidak terlibat dan tidak berniat ambil bagian dalam operasi militer apa pun. Posisi ini krusial mengingat Siprus adalah anggota Uni Eropa dan sedang memegang presidensi bergilir blok tersebut, menjadikan insiden ini mendapat perhatian luas di tingkat internasional.

Pangkalan RAF Akrotiri merupakan wilayah kedaulatan Inggris yang terletak di semenanjung selatan Siprus, telah digunakan sejak kemerdekaan negara itu pada tahun 1960. Pangkalan ini secara historis menjadi basis penting bagi operasi militer Inggris di Irak, Suriah, dan Yaman. Sehari sebelum serangan drone, pada Minggu, 1 Maret 2026, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengonfirmasi bahwa pemerintahnya menyetujui permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militer Inggris sebagai titik serangan defensif terhadap sistem rudal Iran.

Analisis Implikasi Strategis

Ancaman Iran terhadap Siprus menandai peningkatan signifikan dalam ketegangan geopolitik di Mediterania Timur, yang secara tradisional merupakan koridor strategis penting. Pengerahan aset militer AS ke Siprus, yang diklaim Iran sebagai alasan ancaman, dapat dilihat sebagai upaya Washington untuk memperkuat posisi deterrence terhadap Teheran di tengah dinamika konflik regional yang kompleks. Respons Iran ini berpotensi mengganggu stabilitas regional lebih lanjut, melibatkan negara-negara non-konflik langsung seperti Siprus, dan menyoroti kerentanan infrastruktur militer di wilayah tersebut.

Insiden ini juga menempatkan Siprus dalam posisi dilematis, berusaha mempertahankan netralitasnya sambil menjadi tuan rumah pangkalan militer strategis yang digunakan oleh kekuatan Barat. Peran Siprus sebagai anggota Uni Eropa dan pemegang presidensi bergilir menambah lapisan kompleksitas diplomatik pada situasi ini, menuntut respons yang hati-hati dari komunitas internasional.

Analisis mengenai pergerakan militer dan pernyataan ini didasarkan pada laporan dari kantor berita Tasnim dan AFP, serta pernyataan resmi dari Presiden Siprus dan Kementerian Pertahanan Inggris yang dirilis pada awal Maret 2026.