Pertemuan antara delegasi Iran dan Amerika Serikat (AS) di Muscat, Oman, pada Jumat, 6 Februari 2026, telah membuka kembali jalur dialog yang sempat terhenti. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan kesiapan Teheran untuk melanjutkan pembicaraan, namun dengan batasan tegas: agenda negosiasi hanya akan mencakup isu pengayaan nuklir.
Dinamika Negosiasi dan Batasan Teheran
Araghchi menegaskan bahwa program rudal Iran tidak akan pernah menjadi bagian dari pembahasan. “Rudal Iran tidak pernah bisa dinegosiasikan karena berkaitan dengan masalah pertahanan,” ujarnya, mengutip laporan AFP pada Minggu, 8 Februari 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi posisi Teheran yang konsisten dalam memisahkan kapabilitas pertahanan konvensional dari isu nuklir.
Sebaliknya, Pemerintah AS, di bawah tekanan dari Israel, mendorong perluasan cakupan negosiasi. Washington berupaya memasukkan isu program rudal balistik Iran serta dugaan keterlibatan Teheran dalam mendukung kelompok militan di kawasan Timur Tengah. Namun, Iran bersikukuh menolak perluasan agenda di luar isu nuklir.
Latar Belakang dan Eskalasi Tekanan Ekonomi
Pertemuan di Muscat menandai dialog pertama sejak kegagalan pembicaraan nuklir Iran-AS tahun lalu. Meskipun berlangsung secara tidak langsung, Araghchi menyebutnya sebagai awal yang positif, mengindikasikan adanya kesempatan untuk membangun kembali kepercayaan, meskipun prosesnya diperkirakan memakan waktu panjang. Presiden AS Donald Trump juga menilai dialog di Oman berlangsung positif dan mengisyaratkan putaran negosiasi berikutnya akan digelar pekan depan.
Namun, di tengah optimisme diplomatik, Presiden Trump pada Sabtu, 7 Februari 2026, menandatangani perintah eksekutif baru yang memberlakukan tarif bagi negara-negara yang masih menjalin kerja sama bisnis dengan Iran. Washington juga mengumumkan sanksi tambahan terhadap sejumlah entitas dan kapal pengiriman guna membatasi ekspor minyak Iran. Langkah ini menunjukkan strategi tekanan maksimum AS yang terus berlanjut.
Data dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menunjukkan bahwa Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Iran pada tahun 2024, dengan total impor sebesar 18 miliar dollar AS (sekitar Rp 303,13 triliun) dan ekspor senilai 14,5 miliar dollar AS (sekitar Rp 244,19 triliun). Kebijakan sanksi AS berpotensi mempengaruhi dinamika perdagangan ini.
Analisis mengenai dinamika negosiasi ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran dan laporan media internasional yang dirilis pada 8 Februari 2026.