Internasional

Iran: Teheran Belum Terima Proposal Jelas AS di Tengah Negosiasi Nuklir Oman

Teheran menyatakan belum menerima proposal konkret dari Amerika Serikat (AS) meskipun perundingan nuklir sedang berlangsung. Pernyataan ini disampaikan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, dalam wawancara dengan Al Jazeera di Doha pada Rabu, 11 Februari 2026.

Latar Belakang Negosiasi

Larijani mengomentari putaran pertama perundingan nuklir terbaru yang digelar di Muscat, ibu kota Oman, pada Jumat, 6 Februari 2026. Ia menggambarkan pertemuan tersebut sebagai ajang pertukaran pesan dan menegaskan bahwa proses negosiasi masih berlanjut. Iran menyambut baik upaya regional untuk mendukung perundingan dan menegaskan kembali komitmennya terhadap jalur diplomasi.

Partisipasi AS dalam perundingan dinilai Larijani sebagai pergeseran ke arah rasional. Namun, ia memperingatkan bahwa setiap agresi militer oleh AS akan memicu respons balasan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan tersebut.

Fokus dan Posisi Iran

Larijani menegaskan bahwa perundingan tersebut secara eksklusif berfokus pada program nuklir Iran dan tidak mencakup isu-isu lain. Ia menolak kemungkinan penghentian total pengayaan uranium di wilayah Iran, dengan alasan kebutuhan domestik untuk sektor energi dan farmasi.

Dalam kesempatan yang sama, Larijani juga menuduh Israel berupaya menggagalkan negosiasi dan mengganggu stabilitas regional. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington, serta penguatan kehadiran militer AS di kawasan, terlepas dari upaya diplomatik yang baru-baru ini dilakukan.

Implikasi Strategis

Sikap Iran yang menuntut proposal lebih jelas dari AS mengindikasikan kompleksitas dalam upaya mencapai kesepakatan nuklir yang komprehensif. Penolakan Iran untuk menghentikan pengayaan uranium secara total, dikombinasikan dengan peringatan terhadap agresi militer, menyoroti garis merah strategis Teheran dalam mempertahankan program nuklirnya.

Dinamika ini berpotensi memengaruhi stabilitas regional, terutama dengan adanya tuduhan terhadap Israel dan peningkatan kehadiran militer AS. Proses negosiasi di Oman menjadi krusial dalam meredakan tensi dan mencari solusi diplomatik yang berkelanjutan.

Analisis mengenai perkembangan negosiasi ini didasarkan pada pernyataan resmi Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang dilansir oleh media internasional pada 11 Februari 2026.