Teheran, Iran, hingga Selasa (03/03/2026), menunjukkan kehati-hatian strategis dengan menahan diri untuk tidak menargetkan aset-aset Amerika Serikat (AS) yang berlokasi di Turkiye. Keputusan ini kontras dengan serangkaian serangan rudal dan pesawat tak berawak yang dilancarkan Iran terhadap posisi AS di wilayah Teluk, Israel, Irak, dan Yordania sejak eskalasi konflik pada Sabtu (28/02/2026). Analis menilai, serangan terhadap Turkiye, sebagai anggota NATO, merupakan perjudian geopolitik berisiko tinggi yang dapat memicu respons kolektif dan konsekuensi bencana bagi Teheran.
Dinamika Serangan Iran di Timur Tengah
Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari, Iran telah mengintensifkan operasi militer balasan di berbagai titik di Timur Tengah. Serangan-serangan ini secara eksplisit menargetkan fasilitas yang terkait dengan kepentingan AS dan Israel, mencakup pangkalan militer di Irak, Yordania, serta beberapa negara Teluk. Namun, di tengah gelombang eskalasi ini, Turkiye, yang merupakan negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan menampung fasilitas militer AS yang krusial, tetap tidak tersentuh.
Pangkalan Strategis AS di Turkiye
Turkiye menjadi lokasi bagi dua fasilitas militer AS yang memiliki signifikansi strategis tinggi. Pertama adalah Pangkalan Udara Incirlik, dekat Adana, yang telah menjadi pusat operasi AS selama beberapa dekade. Kedua adalah pangkalan di Kurecik, Turkiye tengah, yang mengoperasikan sistem radar peringatan dini NATO. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi peluncuran rudal, termasuk yang berasal dari Iran. Meskipun Ankara secara konsisten membantah bahwa data radar tersebut digunakan untuk mendukung Israel, keberadaan fasilitas ini telah lama menjadi sumber ketidaknyamanan bagi Teheran.
Kalkulus Risiko Iran
Para ahli geopolitik menyoroti bahwa keputusan Iran untuk tidak menargetkan Turkiye didasarkan pada kalkulus risiko yang cermat. Gonul Tol, seorang analis dari Middle East Institute di Washington, menyatakan, “Di masa lalu, pejabat Iran telah menunjuk Kurecik untuk menunjukkan ketidaksenangan atas instalasi radar tersebut. Namun, pada titik ini, menyerang negara NATO seperti Turkiye akan menjadi perjudian yang jauh lebih berisiko bagi Iran.”
Arif Keskin, pakar Iran dari Universitas Ankara, menambahkan bahwa serangan militer langsung terhadap Turkiye akan berbeda dengan operasi “pengiriman pesan” berisiko rendah yang dilakukan di negara-negara Teluk. “Langkah militer langsung terhadap Turkiye berisiko memicu respons simetris dari Ankara. Hal ini dapat mendorong konflik melampaui batas yang tidak dapat dikendalikan,” jelas Keskin kepada AFP. Ia menekankan bahwa menargetkan anggota NATO dapat mengaktifkan mekanisme pertahanan kolektif aliansi tersebut, yang secara dramatis akan meningkatkan biaya bagi Iran.
Peran Diplomatik Turkiye dan Isolasi Potensial
Selain pertimbangan militer, Direktur Pusat Studi Iran (IRAM) di Ankara, Serhan Afacan, menggarisbawahi pentingnya jalur diplomasi. Afacan menilai bahwa Iran tidak memiliki insentif strategis maupun niat untuk menargetkan titik mana pun di Turkiye, karena risiko politik dan militer akan sangat tinggi. Serangan terhadap Turkiye juga berpotensi mengisolasi Teheran dari salah satu saluran negosiasi terakhirnya.
“Iran masih menghargai peran potensial Turkiye dalam deeskalasi dan mediasi diplomatik. Menargetkan Turkiye akan merusak saluran tersebut di saat dialog tetap menjadi hal yang krusial,” tambah Afacan. Di sisi lain, Ankara telah berupaya keras melalui jalur belakang diplomatik untuk mencegah eskalasi militer lebih lanjut. Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan menyatakan keprihatinannya atas serangan Iran dan berjanji untuk meningkatkan upaya diplomatik demi mengembalikan semua pihak ke meja perundingan, sembari mempertahankan posisi netral sejak konflik pecah.
Analisis mengenai dinamika konflik ini didasarkan pada laporan dari kantor berita AFP, pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Turkiye, serta pandangan dari lembaga think tank seperti Middle East Institute dan Pusat Studi Iran (IRAM) yang dirilis hingga awal Maret 2026.