Internasional

Iran: Tolak Konsesi Nuklir dan Rudal, Teheran Pertaruhkan Eskalasi Militer di Teluk Persia

TEHERAN – Republik Islam Iran tetap teguh menolak tuntutan Amerika Serikat (AS) terkait program nuklir dan rudal balistiknya, meskipun wilayahnya kini dikepung oleh armada militer AS. Sikap ini memicu kekhawatiran akan kesenjangan persepsi yang berbahaya antara kedua belah pihak, yang berpotensi menggagalkan upaya negosiasi dan memicu konflik regional baru.

Pertemuan krusial antara pejabat AS dan Iran dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Kamis, 26 Februari 2026, dalam upaya terakhir untuk mencapai kesepakatan sebelum Presiden Donald Trump mempertimbangkan opsi serangan militer.

Kesenjangan Persepsi dan Garis Merah Negosiasi

Bagi para pemimpin Iran, memberikan konsesi atau kompromi dipandang sebagai ancaman eksistensial yang lebih besar ketimbang risiko konfrontasi militer. Sasan Karimi, seorang ilmuwan politik di Universitas Teheran dan mantan wakil presiden bidang strategi di pemerintahan Iran sebelumnya, menyatakan, “Menghindari perang memang merupakan prioritas utama, tetapi bukan dengan segala cara. Terkadang, sebuah negara politik, terutama negara ideologis, mungkin mempertimbangkan posisinya dalam sejarah sama pentingnya, atau bahkan lebih penting, daripada kelangsungan hidupnya sendiri.”

Pemerintahan Trump bersikeras agar Iran menghentikan total pengayaan nuklir, membatasi jangkauan rudal balistik, dan menghentikan dukungan terhadap kelompok milisi di kawasan Timur Tengah. Sebaliknya, Iran memandang pengayaan nuklir sebagai hak kedaulatan yang dijunjung tinggi oleh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dan kepemilikan rudal sebagai instrumen vital untuk pertahanan diri.

Strategi Deterensi Iran dan Potensi Eskalasi

Ali Vaez, Direktur Iran dari International Crisis Group, menjelaskan bahwa Teheran meyakini tunduk pada syarat AS hanya akan menunjukkan titik lemah mereka. “Bagi Iran, tunduk pada persyaratan AS lebih berbahaya daripada menderita serangan AS lainnya. Mereka tidak percaya bahwa setelah menyerah, AS akan mengurangi tekanan,” kata Vaez.

Ayatollah Khamenei berulang kali menegaskan bahwa tujuan akhir Washington bukanlah isu nuklir semata, melainkan penggulingan sistem pemerintahan Republik Islam Iran secara keseluruhan. Menghadapi potensi konfrontasi, Teheran kemungkinan akan mencoba menyerap serangan terbatas dan membalas secara terukur ke pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah, sebagaimana yang terjadi pada Juni lalu.

Para analis memprediksi bahwa jika Trump memilih eskalasi besar-besaran, pasukan AS dan Israel harus bergerak cepat melumpuhkan kemampuan militer Iran dalam hitungan hari guna mencegah balasan yang lebih ganas. Iran juga diperkirakan dapat meniru taktik milisi Houthi dengan menciptakan konfrontasi jangka panjang yang melelahkan, termasuk gangguan terhadap jalur pengapalan minyak di Selat Hormuz. Langkah ini dapat memicu lonjakan harga minyak dunia, sebuah risiko besar bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu mendatang.

Dampak Geopolitik dan Proyeksi Konflik

Meskipun AS dan Israel mampu memberikan pukulan telak, Teheran dilaporkan telah menyiapkan sistem kepemimpinan berlapis untuk memastikan pemerintahan tetap berjalan, bahkan jika para pemimpin puncaknya tidak selamat dalam konflik. “Menganggap bahwa setiap perang akan membuat Iran lebih fleksibel hanyalah sebuah khayalan,” pungkas Vaez.

Analisis mengenai dinamika negosiasi dan potensi eskalasi ini didasarkan pada laporan dari New York Times pada 23 Februari 2026, serta pernyataan resmi dari pejabat dan pakar yang terlibat dalam isu ini.