Internasional

Iran: Transisi Kekuasaan Mendesak Pasca-Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei oleh Serangan AS-Israel

Pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu, 28 Februari 2026, dalam sebuah serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel di kediamannya di Teheran, telah memicu krisis suksesi mendesak. Insiden ini, yang juga menewaskan anggota keluarganya, mendorong para pejabat tinggi Iran untuk segera mengaktifkan mekanisme transisi kekuasaan. Sementara itu, Amerika Serikat dilaporkan berjanji untuk membongkar struktur pemerintahan yang telah berdiri sejak Revolusi Iran 1979.

Mekanisme Suksesi Pemimpin Tertinggi Iran

Sesuai konstitusi Iran, Pemimpin Tertinggi tidak dipilih langsung oleh rakyat, melainkan melalui Majelis Ahli. Badan ini terdiri dari 88 ulama senior yang dipilih oleh publik setiap delapan tahun sekali. Namun, proses pencalonan anggota Majelis Ahli sangat ketat, memerlukan persetujuan dari Dewan Penjaga, sebuah badan pengawas yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh Pemimpin Tertinggi.

Apabila jabatan Pemimpin Tertinggi kosong karena kematian atau pengunduran diri, Majelis Ahli segera berkumpul untuk menentukan pengganti melalui pemungutan suara sederhana. Kandidat yang memenuhi syarat harus seorang ahli hukum senior dengan pemahaman mendalam tentang yurisprudensi Islam Syiah, serta memiliki kualitas kepemimpinan seperti penilaian politik, keberanian, dan kemampuan administrasi.

Sejarah Iran mencatat hanya satu kali peralihan kekuasaan Pemimpin Tertinggi sebelumnya, yaitu setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Islam, pada tahun 1989.

Dewan Pimpinan Sementara dan Konstitusi

Pasal 111 Konstitusi Iran mengamanatkan pembentukan dewan pimpinan sementara untuk menjalankan tugas-tugas kenegaraan selama kekosongan jabatan Pemimpin Tertinggi, hingga pemimpin baru terpilih. Dewan ini mencakup Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan seorang ulama dari Dewan Penjaga Konstitusi.

Ayatollah Alireza Arafi (67) dari Dewan Penjaga Konstitusi telah diangkat menjadi anggota dewan sementara beranggotakan tiga orang tersebut pada Minggu, 1 Maret 2026. Kepala keamanan Iran dan orang kepercayaan mendiang Khamenei, Ali Larijani, mengonfirmasi bahwa proses transisi sedang berlangsung.

Analisis Geopolitik dan Kesiapan Sistem

Profesor riset bidang politik Teluk di Universitas Qatar, Luciano Zaccara, berpendapat bahwa sistem politik Iran telah dipersiapkan untuk menghadapi situasi seperti ini, mengingat potensi pembunuhan Khamenei adalah kemungkinan yang nyata. Zaccara menyoroti bahwa tekanan eksternal, termasuk dari Amerika Serikat, seringkali bertujuan untuk memaksakan syarat atau bahkan penyerahan rezim, bukan negosiasi.

Menurut Zaccara, Khamenei telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan kelangsungan struktur kekuasaan dengan menyiapkan pengganti bagi pejabat yang disingkirkan dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini memastikan bahwa “strukturnya tetap ada, jalur kekuasaan dan jalur komando tetap pada tempatnya,” ujarnya, mengindikasikan ketahanan sistem meskipun terjadi guncangan kepemimpinan.

Analisis mengenai mekanisme suksesi dan transisi kekuasaan di Iran ini didasarkan pada laporan Al Jazeera, konstitusi Republik Islam Iran, dan pernyataan resmi dari pejabat Iran yang dirilis kepada media internasional.