Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi menutup sebagian wilayah Selat Hormuz pada Rabu (18/2/2026) dengan alasan keamanan navigasi. Langkah strategis ini diambil di tengah pelaksanaan latihan militer intensif yang digelar sejak awal pekan, sekaligus merespons peningkatan kehadiran armada angkatan laut Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Eskalasi Militer di Jalur Maritim Strategis
Penutupan sebagian jalur pelayaran internasional ini dikonfirmasi oleh otoritas Teheran sebagai prosedur keselamatan selama manuver tempur IRGC berlangsung. Komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, menyatakan bahwa kesiapsiagaan personel ditingkatkan guna menghadapi potensi ancaman keamanan di wilayah perairan tersebut. Latihan ini telah dimulai sejak Senin (16/2/2026) tanpa rincian durasi yang pasti.
Di sisi lain, Washington telah mengerahkan gugus tugas angkatan laut dalam skala besar ke wilayah Teluk. Langkah ini dinilai sebagai instrumen tekanan diplomatik agar Teheran segera menyepakati poin-poin krusial dalam program nuklirnya. Meskipun ketegangan meningkat, Tangsiri menegaskan bahwa keputusan untuk menutup selat secara total tetap berada di bawah wewenang penuh pemimpin tertinggi Iran.
Signifikansi Ekonomi dan Logistik Global
Selat Hormuz merupakan titik sumbat (chokepoint) energi paling vital di dunia. Berdasarkan data dari International Energy Agency (IEA), jalur ini menjadi rute utama bagi distribusi komoditas global sebagai berikut:
- Sekitar 25 persen dari total minyak mentah yang diangkut melalui jalur laut global.
- Sekitar 20 persen dari pasokan gas alam cair (LNG) dunia.
Meskipun faksi politik garis keras di Iran kerap menyuarakan ancaman pemblokiran total, catatan sejarah menunjukkan bahwa selat ini belum pernah ditutup sepenuhnya karena risiko ekonomi yang masif bagi semua pihak terkait.
Progres Diplomasi di Jenewa
Di tengah unjuk kekuatan militer di lapangan, jalur diplomasi tetap diupayakan melalui pembicaraan tidak langsung di Jenewa, Swiss. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengeklaim adanya kesepahaman awal mengenai prinsip-prinsip panduan program nuklir setelah bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang bertindak sebagai mediator.
Namun, perbedaan fundamental masih membayangi negosiasi tersebut. Teheran memfokuskan tuntutan pada pencabutan sanksi ekonomi secara menyeluruh. Sebaliknya, Amerika Serikat memberikan sinyalemen untuk memperluas cakupan perjanjian hingga mencakup pembatasan pengembangan rudal balistik Iran. Delegasi Iran dijadwalkan kembali dalam dua pekan ke depan dengan proposal teknis untuk mengatasi celah perbedaan posisi tersebut.
Analisis mengenai dinamika keamanan di Selat Hormuz ini disusun berdasarkan laporan resmi Korps Garda Revolusi Iran, pernyataan Kementerian Luar Negeri Oman, serta data lalu lintas energi dari International Energy Agency (IEA) yang dirilis pada Februari 2026.