Internasional

Iran: Tutup Selat Hormuz, Picu Kekhawatiran Pasokan Minyak Global dan Pergeseran Pasar Asia

Teheran, Iran – Republik Islam Iran pada Sabtu (28/2/2026) mengumumkan penutupan Selat Hormuz, sebuah jalur maritim vital yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global. Tindakan ini memicu kekhawatiran signifikan di pasar energi internasional dan berpotensi mengubah dinamika perdagangan minyak, terutama bagi importir terbesar seperti China.

Ancaman Maritim dan Peringatan Internasional

Misi Angkatan Laut Uni Eropa, European Union Naval Mission Aspides, melaporkan bahwa kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menerima peringatan radio langsung dari Garda Revolusi Iran. Peringatan tersebut menyatakan bahwa “tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz,” sebagaimana dikutip oleh Reuters. Jalur perairan sempit ini merupakan arteri utama bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global, setara dengan kurang lebih 21 juta barel per hari.

Selat Hormuz menghubungkan negara-negara produsen minyak utama di Teluk, termasuk Arab Saudi, Iran, Irak, dan Uni Emirat Arab, dengan pasar global melalui Teluk Oman dan Laut Arab. Gangguan yang berkepanjangan di selat ini akan memiliki dampak langsung dan mendalam pada rantai pasokan energi dunia.

Dampak Strategis pada Ketergantungan Energi China

China, sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia, sangat bergantung pada pasokan dari kawasan Teluk. Data dari perusahaan analitik Kpler pada tahun 2025 menunjukkan bahwa China membeli lebih dari 80 persen minyak Iran yang dikirim melalui laut. Pembelian ini mencapai rata-rata 1,38 juta barel per hari, setara dengan sekitar 13,4 persen dari total 10,27 juta barel per hari impor minyak laut China.

Ketergantungan China pada minyak Iran sebagian besar disebabkan oleh sanksi Amerika Serikat terhadap Teheran, yang membatasi pembeli lain dan menjadikan minyak Iran tersedia dengan diskon besar. Kilang-kilang independen China, yang dikenal sebagai “teapots” dan sebagian besar berlokasi di Provinsi Shandong, merupakan pembeli utama minyak Iran karena harga yang kompetitif. Jika pengiriman minyak Iran terganggu akibat pembatasan di Selat Hormuz, kilang-kilang ini kemungkinan besar akan beralih mencari pasokan alternatif, dengan Rusia sebagai salah satu opsi utama.

Rusia Memperkuat Dominasi di Pasar Asia

Situasi di Selat Hormuz berpotensi memberikan keuntungan strategis bagi Rusia. Laporan Reuters bulan lalu mengindikasikan bahwa impor minyak Rusia ke China diperkirakan akan mencetak rekor tertinggi baru pada Februari 2026, naik untuk bulan ketiga berturut-turut. Vortexa Analytics memperkirakan pengiriman minyak mentah Rusia ke China mencapai 2,07 juta barel per hari untuk pengiriman Februari, meningkat dari 1,7 juta barel per hari pada Januari. Data sementara Kpler bahkan menunjukkan angka yang sedikit lebih tinggi, yaitu 2,083 juta barel per hari untuk Februari, dibandingkan 1,718 juta barel per hari pada Januari.

Sejak November 2025, China telah menggantikan India sebagai klien utama pengiriman minyak laut Rusia. India sendiri memangkas impor minyak Rusia ke level terendah dalam dua tahun pada Desember 2025, dan diperkirakan turun lebih jauh menjadi 1,159 juta barel per hari pada Februari 2026, akibat sanksi Barat terkait konflik di Ukraina dan tekanan untuk mencapai kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat.

Diskon harga minyak mentah Urals Rusia untuk pengiriman Januari dan Februari ke China diperdagangkan 9 hingga 11 dollar AS per barel di bawah patokan ICE Brent, menjadikannya sangat kompetitif. Seorang pedagang senior China yang berinteraksi dengan kilang “teapots” menyatakan, “Untuk kualitas yang Anda dapatkan dari pengolahan minyak Rusia dibandingkan dengan Iran, pasokan Rusia menjadi relatif lebih kompetitif.”

Jika pembatasan di Selat Hormuz berlanjut, gangguan pasokan global berpotensi mendorong kenaikan harga minyak. Namun, bagi Rusia, yang telah mengekspor volume rekor ke China, pengalihan permintaan dari minyak Iran dapat memberikan dorongan tambahan yang signifikan di pasar energi Asia, memperkuat posisi geopolitiknya.

Analisis mengenai pergerakan maritim dan dinamika pasar energi ini didasarkan pada laporan dari Reuters, data analitik dari Kpler dan Vortexa Analytics, serta pernyataan resmi dari European Union Naval Mission Aspides yang dirilis pada Sabtu, 28 Februari 2026.