Internasional

Iran Uji Coba Rudal Sayyad-3G di Selat Hormuz: Respons Strategis Teheran di Tengah Tekanan Nuklir AS

Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Minggu, 22 Februari 2026, berhasil melakukan uji coba rudal pertahanan udara Sayyad-3G untuk pertama kalinya. Peluncuran ini merupakan bagian dari latihan militer “Smart Control” yang digelar di wilayah strategis Selat Hormuz, di tengah peningkatan tensi geopolitik dan negosiasi program nuklir Iran dengan Amerika Serikat.

Uji Coba Sayyad-3G dan Latihan “Smart Control”

IRGC merilis rekaman video yang menunjukkan peluncuran rudal Sayyad-3G dari kapal perang Shahid Sayyad Shirazi. Sistem pertahanan udara berbasis darat ini, yang kini diadaptasi untuk platform laut, dibekali kemampuan peluncuran vertikal (Vertical Launch System/VLS) dan dilaporkan mampu menjangkau target hingga 150 kilometer.

Otoritas Iran mengklaim bahwa sistem Sayyad-3G dirancang untuk menciptakan “payung pertahanan udara regional” yang esensial guna melindungi kapal-kapal militer kelas Shahid Soleimani. Sebagai perbandingan, versi dasar Sayyad-3 berbasis darat pertama kali diuji coba pada Desember 2016 dengan jangkauan 120 kilometer, panjang enam meter, dan bobot mencapai 900 kilogram.

Latihan “Smart Control” di Selat Hormuz dimulai pada 16 Februari dan berlangsung selama tiga hari. Selama periode tersebut, Iran sempat menutup sebagian wilayah Selat Hormuz untuk alasan keamanan maritim. Teheran menegaskan bahwa latihan militer tersebut merupakan upaya kesiapsiagaan strategis dalam menghadapi potensi ancaman keamanan di jalur pelayaran vital tersebut.

Konteks Geopolitik dan Negosiasi Nuklir Iran-AS

Manuver militer Iran ini berlangsung di tengah peningkatan ketegangan regional, menyusul pengerahan kekuatan angkatan laut besar-besaran oleh Amerika Serikat ke wilayah Teluk. Langkah Washington tersebut diinterpretasikan sebagai upaya menekan Teheran agar segera menyepakati poin-poin krusial terkait program nuklir yang kontroversial.

Secara paralel, negosiasi tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat mengenai program nuklir Teheran telah berlangsung di Jenewa, Swiss. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Selasa (17/2/2026), menyatakan bahwa kedua belah pihak telah mencapai kesepahaman mengenai prinsip-prinsip panduan utama. Meskipun demikian, Araghchi mengakui bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, yang bertindak sebagai mediator dalam pembicaraan tersebut, turut mengonfirmasi adanya perkembangan positif. Ia menyebut negosiasi berakhir dengan kemajuan signifikan dalam mengidentifikasi tujuan bersama serta isu-isu teknis yang relevan. Seorang pejabat AS, yang tidak disebutkan namanya, juga mengonfirmasi kemajuan namun menekankan bahwa banyak detail masih perlu dibahas. Pihak Iran dijadwalkan akan kembali dalam dua minggu ke depan dengan proposal terperinci untuk mengatasi celah yang masih ada dalam posisi kedua negara.

Analisis mengenai uji coba rudal dan dinamika negosiasi ini didasarkan pada laporan dari Anadolu dan BBC, serta pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran dan Oman yang dirilis pada periode 17-22 Februari 2026.