Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Senin, 2 Maret 2026, melancarkan gelombang terbaru serangan rudal ke Israel dalam operasi yang dinamakan “Operation True Promise 4”. Serangan ini menggunakan rudal hipersonik Kheibar Shekan, menandai eskalasi signifikan dalam dinamika konflik regional. IRGC mengklaim rudal-rudal tersebut menargetkan sejumlah fasilitas strategis di Israel, termasuk kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pusat komando Angkatan Udara Israel.
Laporan dari Turkiye Today pada hari yang sama menyebutkan bahwa IRGC memperingatkan warga sipil untuk menjauhi fasilitas militer dan pusat pemerintahan yang menjadi target. Klaim IRGC mencakup kompleks pemerintahan di Tel Aviv, pusat militer dan keamanan di Haifa, serta kawasan Yerusalem Timur. Pernyataan resmi Iran tidak merinci tingkat kerusakan atau potensi korban akibat serangan tersebut.
Spesifikasi dan Kapabilitas Rudal Kheibar Shekan
Rudal Kheibar Shekan merupakan rudal balistik berbahan bakar padat generasi ketiga yang diperkenalkan Iran pada tahun 2022. Menurut laporan Euronews pada 23 Juni 2025, rudal ini memiliki panjang sekitar 11,4 meter dengan jangkauan maksimum hingga 1.450 kilometer.
Desain dan Jangkauan
Pengamat pertahanan menilai kehadiran Kheibar Shekan sebagai tonggak penting dalam pengembangan teknologi rudal Iran. Sistem pemandu berbasis satelit dan hulu ledak yang dapat bermanuver (MaRV) meningkatkan tingkat presisi serangan. Dimensinya yang relatif ringkas memungkinkan peluncuran dari berbagai platform, termasuk kendaraan komersial, yang berpotensi menyulitkan deteksi dini.
Sistem Pemandu dan Hulu Ledak
Hulu ledak Kheibar Shekan memiliki bobot sekitar 550 kilogram dengan daya ledak tinggi. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa rudal ini dapat melaju hingga kecepatan Mach 2 sampai Mach 3 saat mendekati target. Kecepatan ini secara signifikan mempersulit sistem pertahanan udara konvensional seperti Patriot dan David’s Sling milik Israel untuk melakukan intersepsi. Rudal ini dikembangkan oleh ilmuwan Angkatan Udara IRGC dan diperkenalkan ke publik oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Mohammad Bagheri, pada tahun 2022.
Klaim Penetrasi Sistem Pertahanan Israel
The Economic Times pada 2 Maret 2026 menyoroti klaim kemampuan Kheibar Shekan dalam menghindari sistem pertahanan udara Israel, termasuk Iron Dome. Rudal ini dilengkapi dengan sistem panduan fase pertengahan penerbangan yang memungkinkan koreksi jalur secara dinamis menuju target.
Teknologi Penghindar Intersepsi
Teknologi kendaraan masuk kembali yang dapat bermanuver (MaRV) memungkinkan perubahan lintasan sebelum fase akhir serangan, menambah kompleksitas bagi sistem pertahanan lawan. Selain itu, perangkat penanggulangan elektronik dirancang untuk mengganggu radar dan sistem pelacakan musuh. Kombinasi fitur-fitur ini diklaim meningkatkan peluang rudal untuk lolos dari intersepsi.
Perang Informasi dan Atribusi Klaim
Pejabat Iran dan media yang terafiliasi sebelumnya telah berulang kali menyatakan bahwa sistem pertahanan udara Israel berhasil ditembus dalam serangan terdahulu. Militer Iran tahun lalu bahkan mengeklaim rudalnya mengenai Bandara Ben Gurion setelah melewati Iron Dome. Klaim-klaim ini tetap menjadi bagian integral dari perang informasi di tengah eskalasi konflik antara Iran dan Israel.
Konteks Operasi dan Implikasi Strategis
Operasi “True Promise 4” merupakan kelanjutan dari serangkaian serangan rudal Iran terhadap Israel. Kheibar Shekan sebelumnya dilaporkan digunakan dalam operasi “Sadiq Promise 1” dan “Sadiq Promise 2” pada April dan Oktober 2024.
Latar Belakang Serangan Sebelumnya
Pada periode tersebut, Iran disebut meluncurkan sekitar 180 rudal ke Israel menyusul terbunuhnya pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah dan Komandan IRGC Abbas Nilforoushan. Serangan terbaru ini mengindikasikan peningkatan kapabilitas dan kemauan Iran untuk menggunakan aset strategisnya dalam merespons ketegangan regional.
Analisis Dampak Regional
Penggunaan rudal hipersonik dengan klaim kemampuan penetrasi sistem pertahanan canggih berpotensi mengubah kalkulasi strategis di Timur Tengah. Hal ini dapat memicu perlombaan senjata regional dan menantang doktrin pertahanan negara-negara yang bersekutu dengan Israel. Implikasi jangka panjang terhadap stabilitas kawasan dan upaya deterrence masih akan terus diamati oleh komunitas internasional.
Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada laporan media internasional dan pernyataan resmi Korps Garda Revolusi Islam Iran yang dirilis pada 2 Maret 2026.