Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim telah menyebabkan lebih dari 650 personel militer Amerika Serikat tewas atau terluka dalam dua hari pertama ‘Operation True Promise 4’, menargetkan pangkalan dan kapal perang AS di seluruh Timur Tengah. Klaim ini dibantah oleh Washington, yang hanya melaporkan enam korban jiwa dari pasukannya, memicu ketidakpastian mengenai dinamika kekuatan di kawasan Teluk Persia.
Klaim IRGC atas Kerugian Militer AS
Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, Juru Bicara IRGC, menyatakan bahwa serangan-serangan tersebut telah menimbulkan kerugian signifikan pada instalasi militer AS di wilayah Teluk Persia. Menurutnya, intelijen Iran dan laporan medan perang mengonfirmasi jumlah korban yang jauh lebih tinggi dari yang diakui AS.
Naeini merinci bahwa markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain berulang kali menjadi sasaran rudal dan drone Iran. Dalam salah satu serangan, ia mengklaim 160 personel AS tewas atau terluka ketika fasilitas militer penting menjadi target. Selain itu, kapal pendukung tempur MST Angkatan Laut AS juga dilaporkan mengalami kerusakan parah setelah terkena rudal angkatan laut Iran.
Manuver USS Abraham Lincoln dan Respons Iran
Lebih lanjut, Naeini mengeklaim bahwa pasukan angkatan laut Iran telah meluncurkan empat rudal jelajah ke kapal induk USS Abraham Lincoln. Serangan ini disebut terjadi saat kapal induk tersebut berada sekitar 250-300 kilometer di lepas pantai Chabahar, Iran tenggara. Setelah insiden tersebut, menurut Naeini, USS Abraham Lincoln terpaksa mundur ke arah Samudra Hindia bagian tenggara.
Operasi ‘True Promise 4’ ini, menurut IRGC, menandai respons signifikan dari pasukan militer Iran terhadap apa yang mereka sebut sebagai agresi berkelanjutan rezim Zionis dan Amerika Serikat terhadap rakyat Iran.
Respon dan Atribusi Ganda
Pernyataan IRGC mengenai jumlah korban dan mundurnya kapal induk AS sangat kontras dengan laporan resmi dari Pentagon. Washington secara konsisten membantah klaim Iran, menegaskan bahwa kerugian personel mereka jauh lebih rendah dan tidak ada kapal perang utama yang dipaksa mundur dari posisinya akibat serangan tersebut. Perbedaan data ini menyoroti tantangan dalam memverifikasi informasi di tengah konflik dan ketegangan geopolitik.
Analisis mengenai klaim pergerakan militer dan korban jiwa ini didasarkan pada pernyataan resmi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang dirilis melalui media Tasnim dan bantahan dari pihak militer Amerika Serikat.