Serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu, 28 Februari 2026, menewaskan dua figur sentral dalam struktur kekuasaan Iran: Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Mayor Jenderal Mohammad Pakpour dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Insiden di Teheran ini, yang pertama kali dilaporkan oleh saluran berita Israel N12 dan kemudian dikonfirmasi oleh Iran melalui AFP, menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan regional, memicu kekhawatiran akan dampak strategis terhadap stabilitas Timur Tengah.
Latar Belakang dan Konfirmasi Insiden
Laporan kematian Mayor Jenderal Pakpour, salah satu tokoh militer paling berpengaruh di Iran, muncul setelah ia menjabat sebagai komandan tertinggi IRGC selama 260 hari. Kematiannya menambah daftar pejabat tinggi Iran yang tewas dalam operasi yang dikaitkan dengan AS dan Israel, sebagaimana dilaporkan NDTV. Serangan ini juga menargetkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, profil paling prominen di Iran, yang kematiannya turut dikonfirmasi.
Profil dan Peran Strategis Mohammad Pakpour
Mohammad Pakpour naik ke pucuk pimpinan IRGC setelah dipromosikan ke pangkat Mayor Jenderal oleh Ayatollah Khamenei pada tahun 2025, menggantikan komandan sebelumnya, Hussein Salami. Saat pelantikannya, Khamenei secara spesifik menginstruksikan Pakpour untuk meningkatkan kapabilitas, kesiapan, dan kohesi internal IRGC. Institusi ini merupakan pilar krusial yang bertugas melindungi sistem politik Iran, memegang kendali luas atas struktur keamanan negara, termasuk pengawasan kemampuan rudal balistik dan jaringan kelompok bersenjata sekutu di luar perbatasan Iran.
Hanya sebulan sebelum insiden ini, Mayor Jenderal Pakpour sempat melontarkan peringatan keras kepada Washington dan Tel Aviv. Ia menegaskan agar kedua negara tersebut menghindari salah perhitungan terhadap kekuatan militer Iran, menyatakan, “Iran berdiri lebih siap dari sebelumnya dengan jari di atas pelatuk.”
Implikasi Geopolitik dan Respons Regional
Kematian dua figur kunci ini diperkirakan akan memicu gejolak signifikan dalam dinamika kekuatan di Timur Tengah. IRGC, sebagai garda terdepan pertahanan dan proyeksi kekuatan Iran, kemungkinan akan menghadapi tantangan kepemimpinan dan operasional. Insiden ini juga berpotensi memperdalam polarisasi regional, dengan negara-negara sekutu Iran diperkirakan akan merespons, sementara negara-negara Teluk dan Barat akan memantau situasi dengan cermat.
Analisis mengenai insiden ini didasarkan pada laporan awal dari saluran berita Israel N12, konfirmasi dari kantor berita AFP yang mengutip sumber Iran, serta laporan tambahan dari NDTV. Pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Israel atau Pentagon terkait operasi ini belum dirilis secara publik hingga Minggu, 01 Maret 2026, sehingga atribusi ganda tetap dipertahankan.