Pemerintah Israel pada Selasa, 03 Maret 2026, membantah keras klaim Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang menyatakan telah melancarkan serangan rudal balistik terhadap kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Yerusalem. Bantahan ini muncul di tengah laporan dari kantor berita semi-resmi Iran, Fars, yang mengutip juru bicara militer Iran mengenai keberhasilan rudal Khaibar menghantam target strategis tersebut.
Klaim Serangan dan Bantahan Israel
Menurut pernyataan IRGC yang disiarkan oleh Fars, rudal balistik Kheybar Shekan berhasil menghantam kantor perdana menteri Israel serta lokasi komandan Angkatan Udara Israel, Tomer Bar, dalam sebuah operasi yang disebut sebagai “serangan terarah dan mengejutkan” pada Senin (2/3/2026). Namun, otoritas Israel dengan tegas membantah klaim tersebut, menyebutnya sebagai disinformasi. Sumber resmi dari kantor Perdana Menteri Netanyahu menyatakan bahwa tidak ada laporan mengenai dampak rudal di Yerusalem dan kantor tersebut “menurut semua keterangan, tetap utuh” meskipun sirene serangan udara sempat berbunyi.
Eskalasi Ketegangan Regional
Insiden ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang signifikan antara Israel dan Iran. Ketegangan memuncak pasca operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada Sabtu (28/2/2026). Sebagai respons, Teheran dan milisi sekutunya melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah kota di Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi di sekitar fasilitas nuklir Iran, menggambarkannya sebagai “sangat mengkhawatirkan”. Grossi memperingatkan bahwa “kemungkinan pelepasan radiologis dapat menimbulkan konsekuensi serius, termasuk kebutuhan untuk mengevakuasi wilayah sebesar atau bahkan lebih besar dari kota-kota besar.” Upaya IAEA untuk menghubungi otoritas regulasi nuklir Iran dilaporkan belum membuahkan hasil. Di sisi lain, Duta Besar Iran untuk IAEA, Reza Najafi, menuduh pasukan AS dan Israel menyerang lokasi nuklir Iran, termasuk fasilitas Natanz, sehari sebelum klaim serangan rudal ke Yerusalem.
Analisis mengenai klaim serangan rudal dan bantahan ini didasarkan pada pernyataan resmi dari kantor Perdana Menteri Israel, laporan dari kantor berita Fars, serta pernyataan publik dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang dirilis pada awal Maret 2026.