Internasional

Israel Daftarkan Lahan Tepi Barat Jadi Aset Negara: Langkah Menuju Aneksasi De Facto di Area C

Pemerintah Israel secara resmi memulai proses pendaftaran lahan di wilayah Tepi Barat sebagai aset negara, sebuah langkah strategis yang memicu ketegangan diplomatik baru di Timur Tengah. Kebijakan ini difokuskan pada Area C, wilayah yang mencakup sekitar 60 persen dari total luas Tepi Barat dan berada di bawah kendali administratif serta keamanan penuh Israel berdasarkan kerangka Kesepakatan Oslo.

Eskalasi Kontrol Administratif di Area C

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa langkah ini merupakan upaya untuk melakukan klarifikasi hak kepemilikan secara transparan guna menyelesaikan sengketa hukum yang berkepanjangan. Namun, para pengamat militer dan organisasi hak asasi manusia melihatnya sebagai instrumen hukum untuk memperkuat kontrol teritorial secara permanen dan sistematis.

Implikasi Strategis dan Yuridis

Jonathan Mizrachi, co-direktur LSM Peace Now, mengklasifikasikan kebijakan ini sebagai mega land grab atau pengambilalihan lahan skala besar. Menurutnya, ambiguitas status kepemilikan di Area C akan digunakan untuk mengalihkan lahan yang selama ini dikelola warga Palestina menjadi properti negara Israel. Langkah ini juga mencakup izin bagi warga Israel untuk membeli lahan secara langsung di Tepi Barat, yang sebelumnya dibatasi oleh regulasi tertentu.

Respon Internasional dan Dinamika Regional

Langkah sepihak ini mendapat penolakan keras dari blok Arab dan lembaga internasional yang menilai tindakan tersebut melanggar konvensi internasional terkait wilayah pendudukan. Berikut adalah poin-poin keberatan utama dari aktor regional:

  • Mesir: Menilai tindakan tersebut sebagai eskalasi berbahaya yang bertujuan mengokohkan kontrol absolut atas wilayah Palestina.
  • Qatar dan Yordania: Menyatakan bahwa pengubahan status lahan secara sepihak merusak fondasi solusi dua negara dan hak kedaulatan rakyat Palestina.
  • PBB: Kepala Hak Asasi PBB, Volker Turk, memperingatkan adanya upaya cepat untuk mengubah demografi wilayah melalui perampasan tanah secara permanen.

Analisis Kekuatan dan Stabilitas Kawasan

Meskipun Presiden AS Donald Trump menekankan pentingnya stabilitas untuk keamanan regional, Washington belum memberikan kecaman langsung terhadap prosedur pendaftaran lahan ini. Ketidakpastian posisi AS memberikan ruang bagi faksi sayap kanan di kabinet Israel untuk mempercepat agenda integrasi Tepi Barat ke dalam struktur administratif negara Israel.

Data Statistik Tepi Barat (2026)Estimasi Jumlah/Keterangan
Populasi Pemukim IsraelLebih dari 500.000 jiwa
Populasi Warga PalestinaSekitar 3.000.000 jiwa
Cakupan Wilayah Area C60% dari total luas Tepi Barat
Status Hukum InternasionalIlegal menurut konsensus internasional

Analisis mengenai pergeseran status lahan dan pergerakan administratif ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Israel serta laporan pemantauan lapangan dari lembaga internasional yang dirilis pada Februari 2026.