Internasional

Israel dan AS Luncurkan Operasi Udara Skala Besar, Targetkan Infrastruktur Rudal Iran di Tengah Eskalasi Regional

Pada Sabtu, 28 Februari 2026, eskalasi militer di Timur Tengah mencapai puncaknya ketika Pasukan Pertahanan Israel (IDF), dengan dukungan penuh militer Amerika Serikat (AS), melancarkan operasi udara masif ke jantung pertahanan Iran. Serangan ini, yang disebut Israel sebagai langkah pencegahan untuk menetralisir ancaman rudal Iran yang diyakini siap diluncurkan, menargetkan spesifik industri rudal Teheran, sebagaimana dilaporkan CBS News dan Guardian.

Superioritas Udara Aliansi Israel-AS dan Debut Teknologi Laser

Aliansi Israel-AS mengerahkan aset signifikan dalam operasi ini. Sejak awal Januari, AS tercatat telah memarkir lebih dari 330 pesawat militer di kawasan Komando Pusat (CENTCOM), menandai penumpukan kekuatan udara terbesar sejak invasi Irak tahun 2003, menurut Anadolu Ajansi pada 25 Februari 2026. Di sektor maritim, dua kapal induk bertenaga nuklir milik AS, USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, telah disiagakan untuk menyokong logistik dan melancarkan serangan udara jarak jauh.

Sorotan utama dalam konfrontasi ini adalah debut Iron Beam. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Israel menggunakan sistem senjata laser operasional ini untuk mencegat rudal dan drone Iran. Berbeda dengan rudal pencegat konvensional yang mahal, Iron Beam beroperasi dengan sinar laser yang jauh lebih ekonomis namun mematikan dalam radius 10 kilometer, seperti diulas The Economic Times pada 27 Februari 2026.

Kekuatan Rudal Bawah Tanah Iran dan Ancaman Hipersonik

Meskipun menghadapi gempuran udara, Iran diyakini masih memiliki kapabilitas pertahanan yang substansial. Teheran diketahui memiliki arsenal rudal balistik terbesar di kawasan Timur Tengah, dengan data intelijen terbaru menunjukkan sekitar 1.500 rudal siap luncur yang disembunyikan di dalam “kota rudal” bawah tanah. Fasilitas ini dirancang untuk sangat sulit ditembus oleh serangan udara, sebagaimana dilaporkan Anadolu Ajansi pada 6 Februari 2026.

Senjata Iran yang paling diwaspadai aliansi Israel-AS adalah Fattah-1, rudal hipersonik yang diklaim mampu melesat hingga kecepatan Mach 13. Dengan kemampuan manuver ekstrem, rudal ini secara teknis nyaris mustahil diintersepsi oleh sistem pertahanan udara standar saat ini, menurut laporan Millitary Watch Magazine pada 18 Juni 2025. Selain itu, citra satelit di pegunungan Kolang-Gaz La (Pickaxe Mountain) menunjukkan adanya proyek penguatan terowongan masif untuk melindungi infrastruktur nuklir Iran dari bom penghancur bunker milik AS.

Dampak Strategis dan Ekonomi Melalui Selat Hormuz

Iran juga memiliki opsi strategis non-militer untuk merespons. Melalui kendali atas Selat Hormuz, Iran memegang urat nadi distribusi seperlima minyak dunia, seperti dilansir Gulf News pada 23 Februari 2026. Skenario terburuk penutupan selat ini diprediksi akan menyebabkan harga minyak mentah Brent meroket melampaui 100 dollar AS per barel. Ancaman juga datang dari jaringan proksi Iran di Irak dan Yaman yang siap menyerang aset sekutu di seluruh kawasan.

Latar Belakang Eskalasi dan Prospek Stabilitas Global

Konfrontasi berdarah hari ini merupakan buntut dari gagalnya meja rundingan di Jenewa, di mana Iran tetap bersikukuh melakukan pengayaan uranium sementara AS menuntut penghentian permanen. Ketika diplomasi menemui jalan buntu dan instrumen militer yang berbicara, dunia menanti seberapa jauh eskalasi ini akan menyeret stabilitas global. Hingga berita ini diturunkan, ledakan masih terus dilaporkan terdengar di langit Teheran.

Analisis mengenai dinamika kekuatan militer dan strategis ini didasarkan pada laporan intelijen publik, citra satelit, serta pernyataan resmi dari Kementerian Pertahanan Israel, Pentagon AS, dan Korps Garda Revolusi Islam Iran yang dirilis hingga Minggu, 01 Maret 2026.