Internasional

Israel dan Hizbullah Saling Serang, AS-Israel Intensifkan Agresi Militer di Iran dan Lebanon

Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Militer Israel melancarkan serangan balasan ke Lebanon pada Senin (1/3/2026), menyusul tembakan roket Hizbullah ke wilayah Israel. Tindakan ini terjadi di tengah gelombang agresi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan fasilitas Iran, memicu kekhawatiran akan perang regional berkepanjangan. Presiden AS Donald Trump menegaskan komitmennya untuk membalas kematian personel militernya, sementara Uni Eropa dan negara-negara Teluk memperingatkan risiko konflik yang meluas.

Eskalasi Militer di Lebanon dan Iran

Militer Israel mengonfirmasi peluncuran serangan terhadap target Hizbullah di Lebanon, menyusul tembakan roket dan drone kelompok tersebut ke wilayah Israel. Serangan Hizbullah ini diklaim sebagai balasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Militer Israel telah mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di sekitar 50 kota dan desa di Lebanon, mengindikasikan bahwa operasi militer terhadap militan Hizbullah diperkirakan akan berlanjut. Observasi dari AFP menunjukkan warga di Lebanon selatan mulai mengungsi menggunakan kendaraan pribadi. Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyatakan bahwa serangan roket ke Israel mengganggu upaya pemerintahnya untuk menjaga Lebanon dari konflik regional.

Bersamaan dengan itu, Militer Israel mengumumkan serangan skala besar ke Teheran, dua hari setelah kampanye militer AS-Israel dimulai pada Sabtu (28/2/2026). Pernyataan militer Israel menyebut serangan tersebut menargetkan “rezim teror Iran di jantung Teheran.” Laporan media Iran mengindikasikan stasiun polisi di pinggiran Teheran dan Rumah Sakit Gandhi di Teheran utara terkena serangan, mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur sipil. Selain itu, pangkalan militer Irak di Jurf al-Nasr, yang menampung kelompok bersenjata pro-Iran Kataeb Hizbullah, juga diserang, dengan tiga hantaman dilaporkan mengenai benteng utama kelompok tersebut.

Respon dan Posisi Aktor Regional-Internasional

Departemen Luar Negeri AS dan sekutu Arabnya mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara Teluk yang menampung pasukan AS, menyebutnya sebagai “perilaku ceroboh dan merusak stabilitas.” Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, secara tegas menolak negosiasi dengan Amerika Serikat, menepis laporan media tentang pembicaraan Iran-AS sebagai “fantasi delusi” yang memicu kekacauan di kawasan. Presiden Trump, di sisi lain, menyebut memiliki “tiga pilihan yang sangat baik” untuk pemimpin Iran berikutnya, tanpa merinci nama-nama tersebut, dan menyerukan warga Iran untuk bangkit melawan Garda Revolusi Iran (IRGC) dengan peringatan “Menyerah atau hadapi kematian pasti.”

Di tengah ketegangan, negara-negara Teluk mengadakan pertemuan via video melalui Dewan Kerjasama Teluk untuk merumuskan respons bersama, menyatakan kesiapan untuk “merespons agresi” jika diperlukan. Uni Eropa juga merespons dengan rencana penambahan kapal ke misi maritimnya di Laut Merah, Aspides, untuk menghadapi ancaman Iran yang berpotensi mengganggu lalu lintas maritim. Dua kapal Perancis baru akan bergabung, meningkatkan total kapal menjadi lima. Diplomat Uni Eropa memperingatkan bahwa Timur Tengah “berisiko mengalami kerugian besar dari perang berkepanjangan” dan mendesak Iran untuk menahan diri dari serangan balasan yang membabi buta.

Dampak Strategis dan Ekonomi

Konflik ini telah menimbulkan dampak signifikan terhadap keamanan dan ekonomi regional. Serangan rudal Iran dilaporkan menewaskan setidaknya sembilan orang dan melukai puluhan lainnya di kota Beit Shemesh, Israel, dengan tiga korban luka tambahan di wilayah Yerusalem. Di sisi lain, Militer AS mengumumkan penghancuran markas Garda Revolusi Iran (IRGC), serta puluhan pusat komando, termasuk markas intelijen, pusat komando udara, dan pusat keamanan internal oleh Militer Israel.

Secara ekonomi, perusahaan pelayaran Maersk telah menghentikan sementara transit melalui Terusan Suez dan Selat Hormuz karena alasan keamanan, menyusul pengumuman Iran yang menyatakan penutupan selat tersebut. Insiden lain termasuk dugaan serangan drone di pangkalan militer RAF Akrotiri, Siprus, yang direspons oleh Pasukan Inggris setelah Inggris memberi izin AS menggunakan pangkalan tersebut untuk serangan “defensif” terhadap sistem rudal Iran.

Analisis Strategis dan Proyeksi Konflik

Presiden Trump memperkirakan operasi militer terhadap Iran akan berlangsung sekitar empat minggu, menyatakan, “Negara ini besar, tapi kita perkirakan empat minggu atau kurang.” Pernyataan ini mengindikasikan kesiapan AS untuk operasi militer yang berkelanjutan. Sementara itu, janji Trump untuk membalas kematian tiga tentara AS dalam operasi melawan Iran menggarisbawahi komitmen Washington untuk melindungi personelnya di kawasan.

Analisis mengenai pergerakan militer dan pernyataan diplomatik ini didasarkan pada laporan media internasional, pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Israel dan Amerika Serikat, serta rilis dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang dipublikasikan pada periode 28 Februari hingga 2 Maret 2026.