Militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara intensif di wilayah Lebanon pada Senin (1/3/2026) pagi waktu setempat, menargetkan infrastruktur militer kelompok Hizbullah. Aksi ini merupakan respons balasan atas rentetan tembakan roket yang dilancarkan Hizbullah ke wilayah Israel sehari sebelumnya. Eskalasi ini terjadi menyusul kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (28/2/2026), yang diklaim Hizbullah sebagai pemicu serangan roket mereka.
Seorang jurnalis AFP melaporkan ledakan keras terdengar di Beirut, ibu kota Lebanon, sementara militer Israel mengonfirmasi penargetan fasilitas Hizbullah. Namun, laporan dari jurnalis BBC Alice Cuddy menyebutkan bahwa area permukiman sipil turut terdampak, memaksa ribuan warga Lebanon di wilayah selatan dan timur untuk mengungsi.
Latar Belakang Eskalasi dan Dinamika Regional
Serangan roket dan drone nirawak oleh Hizbullah pada Minggu (29/2/2026) diklaim sebagai balasan atas kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangkaian serangan yang ditudingkan kepada AS-Israel di Teheran, Iran. Hizbullah menyatakan tindakan ini dilakukan untuk membela Lebanon dan rakyatnya, serta sebagai respons terhadap agresi berulang Israel. Seorang pejabat kelompok tersebut menegaskan bahwa kematian Khamenei merupakan “garis merah” bagi Hizbullah.
Militer Israel, atau IDF, menyatakan serangan mereka menargetkan gudang senjata dan infrastruktur operasional Hizbullah di beberapa wilayah Lebanon. IDF berdalih bahwa tindakan Hizbullah melanggar perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak November 2024. Gencatan senjata tersebut dicapai setelah serangkaian pertempuran sengit menyusul konflik Israel-Hamas pada Oktober 2023, di mana Hizbullah secara terbuka mendukung Hamas.
Dampak Kemanusiaan dan Respons Otoritas Lebanon
Dampak langsung dari eskalasi ini adalah gelombang pengungsian massal. Militer Israel telah mengeluarkan seruan evakuasi kepada warga di puluhan desa di Lebanon timur dan selatan, yang dikenal sebagai basis pertahanan Hizbullah, mendesak mereka untuk menjauh setidaknya 1.000 meter dari permukiman mereka. Juru bicara tentara Israel, Ella Waweya, menyatakan melalui platform X bahwa “Tindakan Hizbullah memaksa IDF untuk bertindak melawannya. Demi keselamatan Anda, segera evakuasi rumah Anda.”
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengutuk keras serangan Israel terhadap wilayah negaranya. Ia juga mengecam tindakan Hizbullah yang melancarkan serangan dari Lebanon, menyebutnya melemahkan upaya pemerintah untuk menjauhkan negara itu dari konfrontasi militer yang berbahaya. “Kami mengutuk serangan Israel terhadap wilayah Lebanon, dan memperingatkan bahwa penggunaan Lebanon secara terus-menerus sebagai platform untuk mendukung perang yang tidak terkait dengan kami akan sekali lagi mengekspos negara kami pada risiko,” tegas Presiden Aoun, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Kementerian Dalam Negeri Lebanon telah mengaktifkan peringatan serangan udara dan mendesak warga untuk mengungsi ke tempat teraman terdekat. Namun, akses untuk mengungsi dilaporkan tidak mudah, dengan pihak keamanan Beirut mendesak warga untuk menggunakan jalan utama hanya jika benar-benar diperlukan.
Analisis Strategis dan Implikasi Geopolitik
Eskalasi terbaru ini menyoroti kerapuhan gencatan senjata di kawasan dan potensi Lebanon untuk kembali menjadi medan perang proksi. Kematian Ayatollah Ali Khamenei, figur sentral dalam poros perlawanan Iran, telah memicu respons yang mengindikasikan sensitivitas tinggi terhadap dinamika kekuatan regional. Tindakan Hizbullah, yang mengklaim sebagai pembela Lebanon, justru menempatkan negara itu dalam risiko konfrontasi yang lebih luas, sesuai kekhawatiran Presiden Aoun.
Serangan berulang Israel, meskipun diklaim menargetkan pelanggaran gencatan senjata oleh Hizbullah, memperparah krisis kemanusiaan dan stabilitas di Lebanon. Situasi ini menggarisbawahi tantangan kompleks dalam menjaga kedaulatan teritorial Lebanon di tengah ketegangan geopolitik yang melibatkan aktor-aktor regional dan internasional.
Analisis mengenai pergerakan militer dan pernyataan resmi ini didasarkan pada laporan dari Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon, pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Israel (IDF), serta kutipan dari Presiden Lebanon yang dirilis melalui Al Jazeera pada 1 Maret 2026.