Internasional

Israel Luncurkan Serangan Serentak di Lebanon, Hizbullah Balas dengan Rentetan Rudal ke Haifa

Ketegangan di Timur Tengah meningkat signifikan setelah kelompok bersenjata Hizbullah melancarkan serangan rudal ke pangkalan angkatan laut Haifa di Israel utara pada Selasa (3/3/2026) malam. Serangan ini merupakan respons terhadap operasi militer ekstensif yang dilancarkan Israel terhadap basis-basis Hizbullah di Lebanon, termasuk kawasan pinggiran selatan Beirut, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik regional yang lebih luas.

Eskalasi Operasi Militer Israel di Lebanon

Militer Israel pada Selasa pagi mengumumkan dimulainya putaran baru operasi militer yang mereka sebut sebagai “serangan serentak di Teheran dan Beirut”. Serangan udara berturut-turut menargetkan wilayah Lebanon selatan dan beberapa kawasan di pinggiran Beirut selama dua hari terakhir. Sebelum melancarkan serangan, Israel mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga sipil di beberapa wilayah yang diidentifikasi sebagai target militer.

Pada malam hari, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah menyerang sekitar 60 target yang diklaim terkait dengan Hizbullah dan Hamas. Selain serangan udara, Israel juga melancarkan operasi skala luas terhadap posisi Hizbullah di Lebanon selatan dan mengerahkan pasukan ke sejumlah lokasi di wilayah perbatasan. Langkah ini disebut sebagai bagian dari strategi “pertahanan maju” untuk mencegah serangan terhadap komunitas Israel di wilayah perbatasan.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi telah memberi wewenang kepada IDF untuk menguasai posisi strategis tambahan di Lebanon. Kebijakan ini, menurut Katz, bertujuan untuk memperkuat pertahanan dan mencegah serangan lebih lanjut terhadap wilayah Israel di dekat perbatasan.

Respons Hizbullah dan Serangan Balasan

Hizbullah menyatakan bahwa pangkalan angkatan laut Haifa diserang menggunakan rentetan “rudal berkualitas tinggi” sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Militer Israel kemudian mengonfirmasi deteksi sejumlah proyektil yang datang dari wilayah Lebanon, sebagian besar berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka.

Sebagai balasan, Hizbullah mengeklaim telah melancarkan sedikitnya 13 serangan terhadap target Israel pada hari Selasa. Kelompok tersebut menargetkan lima tank militer Israel, tiga di antaranya berada di wilayah Lebanon, menggunakan rudal berpemandu dan berbagai jenis persenjataan lainnya. Hizbullah juga menyebut telah menggunakan drone serang dan salvo roket untuk menyerang sejumlah pangkalan militer Israel di wilayah utara serta Dataran Tinggi Golan, wilayah yang diduduki Israel sejak perang tahun 1967.

Selain itu, Hizbullah menyatakan telah menargetkan konsentrasi pasukan Israel di sebuah pangkalan militer dekat Yuval, yang berlokasi di dekat perbatasan Lebanon. Kelompok ini juga mengeklaim berhasil menembak jatuh sebuah drone Israel di atas kota Nabatiyeh di Lebanon selatan. Menurut Hizbullah, seluruh serangan ini dilakukan sebagai respons atas serangan Israel terhadap puluhan kota dan desa di Lebanon.

Dampak Kemanusiaan dan Sasaran Sipil

Serangan udara Israel sejak Selasa dini hari juga menghantam kawasan pinggiran selatan Beirut, menargetkan beberapa bangunan setelah peringatan evakuasi dikeluarkan. Fotografer AFP melaporkan kepulan asap tebal membubung tinggi di beberapa bagian ibu kota Lebanon. Otoritas Lebanon mencatat lebih dari 58.000 orang telah mengungsi dari wilayah yang menjadi sasaran serangan.

Stasiun televisi Al-Manar dan stasiun radio Al-Nour, keduanya milik Hizbullah, dilaporkan menjadi target serangan udara di Beirut. Hizbullah mengecam serangan terhadap dua media tersebut, menyebutnya sebagai upaya membungkam suara perlawanan. Di kota Sidon, Lebanon selatan, dua serangan udara dilaporkan terjadi, salah satunya menghantam markas Jamaa Islamiya, kelompok Islamis yang bersekutu dengan Hamas dan Hizbullah. Wilayah sekitar kota Tyre juga terdampak serangan setelah peringatan evakuasi dikeluarkan kepada penduduk setempat.

Analisis mengenai pergerakan militer dan klaim serangan ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Israel, laporan militer Hizbullah, serta laporan dari kantor berita AFP yang dirilis pada 3 Maret 2026.