Pada Rabu, 4 Maret 2026, Israel melancarkan serangkaian serangan udara intensif ke wilayah Lebanon, menargetkan infrastruktur di Baalbek, Lebanon timur, serta sebuah hotel di Hazmieh, pinggiran Beirut. Operasi militer ini diklaim sebagai respons terhadap peluncuran rudal dan drone berulang kali oleh kelompok Hizbullah ke wilayah Israel, menandai eskalasi signifikan dalam konflik lintas batas yang sedang berlangsung.
Eskalasi Operasi Militer Israel
Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel menargetkan bangunan di Baalbek, sebuah wilayah yang terletak jauh dari perbatasan selatan Lebanon. Serangan juga menghantam sebuah hotel di Hazmieh, kawasan pinggiran Beirut yang sebelumnya relatif terhindar dari pertempuran intensif. Pada pagi hari yang sama, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengeluarkan peringatan evakuasi mendesak kepada warga di 16 kota dan desa di Lebanon selatan, mengindikasikan persiapan untuk operasi militer lebih lanjut terhadap militan Hizbullah.
Meskipun Israel secara rutin melancarkan serangan udara di Lebanon selatan dan pinggiran Beirut yang merupakan basis Hizbullah, NNA mencatat bahwa serangan pada Rabu meluas ke area di luar benteng tradisional kelompok tersebut. Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi enam korban tewas dan delapan luka-luka di Aramoun dan Saadiyat, dua kota di selatan Beirut yang tidak termasuk dalam wilayah pengaruh utama Hizbullah. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyatakan bahwa tiga paramedis termasuk di antara korban tewas, dengan enam lainnya terluka saat melakukan evakuasi.
Respons Hizbullah dan Klaim Motivasi
Sebagai respons, sirene serangan udara berulang kali berbunyi di wilayah utara Israel yang berbatasan dengan Lebanon. Militer Israel melaporkan pencegatan beberapa proyektil yang diluncurkan dari Lebanon, tanpa adanya laporan korban jiwa. Peringatan serupa juga diaktifkan di kota perbatasan Metula.
Hizbullah mengklaim telah menargetkan pasukan Israel dengan salvo rudal di wilayah tersebut. Kelompok tersebut juga menyatakan telah menyerang pangkalan Angkatan Laut Haifa di Israel utara pada Selasa, 3 Maret 2026, sebagai balasan atas operasi militer Israel yang sedang berlangsung. Hizbullah lebih lanjut mengaitkan serangan awal mereka dengan pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam sebuah serangan yang diklaim dilakukan oleh AS-Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Dampak Kemanusiaan dan Dinamika Regional
Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa setidaknya 50 orang tewas akibat serangan Israel sejak Senin, 2 Maret 2026. Israel pada Selasa pagi mengumumkan dimulainya fase baru serangan serentak yang menargetkan Teheran dan Beirut. Dalam pernyataan malam harinya, militer Israel mengklaim telah menyerang sekitar 60 target yang terafiliasi dengan Hizbullah dan Hamas, serta melancarkan serangan skala besar tambahan di Lebanon selatan. Stasiun televisi Al Manar, yang berafiliasi dengan Hizbullah, melaporkan bahwa markas besar kelompok tersebut di Beirut juga menjadi sasaran.
Pemerintah Lebanon pada Senin telah mengumumkan larangan terhadap aktivitas militer Hizbullah, sebuah langkah yang bertujuan untuk mencegah keterlibatan lebih lanjut negara itu dalam konflik regional yang lebih luas. Otoritas Lebanon mencatat lebih dari 58.000 orang telah mengungsi dari daerah-daerah yang menjadi sasaran serangan. Situasi ini memperburuk krisis kemanusiaan di tengah ketegangan yang meningkat.
Perjanjian gencatan senjata yang disepakati pada November 2024 sebelumnya bertujuan untuk mengakhiri konflik lebih dari setahun antara Israel dan Hizbullah, termasuk operasi darat Israel. Namun, Israel terus melakukan serangan udara rutin terhadap posisi Hizbullah di Lebanon, dengan alasan bahwa kelompok tersebut menolak untuk melucuti senjatanya, sebuah pelanggaran terhadap resolusi internasional.
Analisis mengenai eskalasi konflik ini didasarkan pada laporan Kantor Berita Nasional (NNA) Lebanon, pernyataan resmi Pasukan Pertahanan Israel (IDF), serta data dari Kementerian Kesehatan Lebanon dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis pada 4 Maret 2026.