Internasional

Israel: Netanyahu Desak AS Perketat Sanksi Rudal Balistik Iran di Gedung Putih, Picu Ketegangan Regional

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan mendadak ke Gedung Putih pada Rabu, 11 Februari 2026, pukul 11.00 waktu setempat, untuk bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Misi utama Netanyahu adalah mendesak Washington agar mengadopsi sikap yang lebih tegas terhadap program rudal balistik Iran, di tengah berlangsungnya negosiasi nuklir antara kedua negara.

Kunjungan ini menandai kali keenam Netanyahu menyambangi AS sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025. Sumber diplomatik mengindikasikan bahwa percepatan jadwal kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat posisi Trump dalam menghadapi Teheran, terutama setelah ketegangan regional yang meningkat.

Sikap AS dan Potensi Eskalasi Militer

Menjelang pertemuan tersebut, Presiden Trump telah memberikan sinyal kuat kepada Teheran. Dalam wawancaranya dengan media Axios, Trump mengungkapkan pertimbangan untuk mengerahkan kelompok serbu kapal induk atau ‘armada’ kedua ke Timur Tengah. Langkah ini dipandang sebagai bentuk tekanan strategis agar Iran bersedia menyepakati perjanjian nuklir yang baru dan lebih komprehensif.

“Entah kita akan mencapai kesepakatan atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras seperti terakhir kali,” ujar Trump, merujuk pada eskalasi sebelumnya. “Kita memiliki satu armada yang sedang menuju ke sana, dan satu lagi kemungkinan akan menyusul.” Dalam kesempatan terpisah, Trump menegaskan kepada Fox Business bahwa AS tidak akan berkompromi: “Harus tidak ada senjata nuklir, tidak ada rudal.” Menurut Trump, meskipun pemimpin Iran menunjukkan keinginan untuk bernegosiasi, mereka dianggap tidak jujur selama bertahun-tahun.

Fokus Israel pada Ancaman Rudal Balistik Iran

Bagi Israel, ancaman dari Iran tidak hanya terbatas pada program nuklirnya, tetapi juga mencakup gudang rudal balistik Teheran yang ekstensif. Kekhawatiran ini memuncak setelah serangan rudal besar-besaran Iran ke wilayah militer dan sipil Israel dalam konflik tahun lalu. “Saya akan mempresentasikan pandangan kami kepada Presiden (Trump) mengenai prinsip-prinsip negosiasi tersebut,” ungkap Netanyahu dalam pernyataan video sesaat sebelum bertolak ke Washington, menggarisbawahi prioritas keamanan Israel.

Dinamika Negosiasi dan Respons Teheran

Di sisi lain, Teheran, yang telah memulai pembicaraan dengan Washington di Oman pekan lalu, telah memperingatkan adanya pengaruh destruktif terhadap jalur diplomasi menjelang kedatangan Netanyahu ke AS. Iran memandang kunjungan ini sebagai upaya untuk menyabotase kemajuan yang telah dicapai dalam negosiasi, yang berpotensi memperkeruh situasi regional.

Implikasi Strategis Kunjungan

Kunjungan Netanyahu ke Washington, di tengah negosiasi nuklir dan postur militer AS yang semakin tegas, menyoroti kompleksitas dinamika kekuatan di Timur Tengah. Desakan Israel untuk sikap yang lebih keras terhadap program rudal balistik Iran dapat memengaruhi arah kebijakan luar negeri AS dan berpotensi memicu eskalasi lebih lanjut di kawasan tersebut, terutama jika Teheran merasa terpojok oleh tekanan diplomatik dan militer.

Analisis mengenai pergerakan diplomatik dan militer ini didasarkan pada pernyataan resmi Gedung Putih, Kantor Perdana Menteri Israel, dan Kementerian Luar Negeri Iran yang dirilis pada 10-11 Februari 2026.