Israel dilaporkan tengah mempersiapkan skenario serangan militer terhadap infrastruktur rudal balistik Iran, menunggu koordinasi strategis dan lampu hijau dari Amerika Serikat. Laporan lembaga penyiaran publik Israel, KAN, mengindikasikan bahwa eskalasi ini dipicu oleh ketidakpastian hasil negosiasi diplomatik antara Washington dan Teheran yang kini berada di titik nadir.
Kebuntuan Diplomasi dan Garis Merah Washington
Perundingan tidak langsung yang dimediasi oleh Oman di Jenewa, Swiss, berakhir tanpa kesepakatan signifikan pada Selasa (17/2/2026). Wakil Presiden AS, JD Vance, mengonfirmasi adanya hambatan pada poin-poin prinsipil terkait garis merah yang ditetapkan Presiden Donald Trump, yang hingga kini belum bersedia diakui oleh pihak Teheran.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan peringatan keras agar Teheran segera menyepakati perjanjian untuk menghindari konsekuensi militer. Presiden Trump sendiri secara terbuka merujuk pada penggunaan pengebom siluman B-2 Spirit dalam operasi terhadap situs nuklir Iran musim panas lalu sebagai bentuk deterrence nyata terhadap ambisi regional Iran.
Mobilisasi Militer dan Kesiagaan di Selat Hormuz
Situasi di lapangan menunjukkan peningkatan kesiagaan tempur yang signifikan di kedua belah pihak. Washington terus memperkuat kehadiran militer di dekat perairan Iran sebagai bentuk tekanan maksimum. Berikut adalah rincian kekuatan dan aktivitas militer yang teridentifikasi di kawasan strategis tersebut:
| Aset/Kegiatan | Detail Teknis | Lokasi |
| USS Abraham Lincoln | Carrier Strike Group dengan 80 pesawat tempur | 700 km dari pantai Iran |
| Latihan Perang IRGC | Mobilisasi Korps Garda Revolusi Islam | Selat Hormuz |
| Penutupan Jalur | Blokade sebagian jalur pelayaran strategis | Selat Hormuz |
Analisis Dampak Strategis dan Eskalasi Regional
Penilaian lembaga keamanan Israel dalam 24 jam terakhir menunjukkan peningkatan probabilitas aksi militer pre-emptive. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menetralisir ancaman rudal balistik sebelum mencapai ambang batas operasional yang membahayakan kedaulatan teritorial Israel. Di sisi lain, Iran merespons dengan pameran kekuatan melalui latihan perang di Selat Hormuz guna menunjukkan kapabilitas mereka dalam mengganggu jalur logistik energi global.
Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada citra satelit terbaru dan pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Israel serta laporan intelijen publik yang dirilis hingga 19 Februari 2026.