Internasional

Israel Tegaskan Tetap Duduki Garis Kuning Gaza di Tengah Implementasi Rencana Damai Donald Trump

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa militer Israel tidak akan melakukan penarikan mundur dari posisi strategis di Jalur Gaza, khususnya wilayah yang diidentifikasi sebagai “Garis Kuning”. Pernyataan keras ini muncul di tengah berjalannya fase kedua rencana perdamaian yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melalui pembentukan Board of Peace.

Eskalasi di Garis Kuning dan Ultimatum Disarmasi

Katz menekankan bahwa pendudukan di Garis Kuning—wilayah penyangga di Gaza timur yang menjadi titik krusial selama fase pertama—akan terus berlanjut hingga Hamas sepenuhnya melucuti persenjataan mereka. Pemerintah Israel menetapkan parameter keamanan yang kaku sebagai syarat mutlak sebelum melakukan pergerakan pasukan lebih lanjut.

  • Target Operasional: Penghancuran total jaringan terowongan lintas batas dan infrastruktur militer Hamas.
  • Ultimatum Disarmasi: Sekretaris Kabinet Yossi Fuchs menetapkan tenggat waktu 60 hari bagi Hamas untuk menyerahkan senjata.
  • Resiko Eskalasi: Kegagalan memenuhi tenggat waktu tersebut akan memicu dimulainya kembali operasi militer skala penuh oleh IDF.

Dinamika Fase Kedua Rencana Perdamaian Trump

Secara prosedural, fase kedua rencana perdamaian Trump yang mulai berlaku sejak pertengahan Januari 2026 mencakup penarikan pasukan Israel secara bertahap, peningkatan volume bantuan kemanusiaan, dan inisiasi rekonstruksi Gaza di bawah pengawasan komite administratif. Namun, Tel Aviv secara eksplisit memprioritaskan security clearance di atas jadwal diplomatik yang telah disusun.

Katz menyatakan bahwa slogan operasional saat ini adalah “sampai terowongan terakhir”. Hal ini mengindikasikan bahwa Israel tidak akan mentoleransi keberadaan elemen militer Hamas, baik dalam bentuk personel bersenjata maupun infrastruktur bawah tanah, terlepas dari tekanan diplomatik internasional yang sedang berlangsung.

Inisiatif Shield of Israel dan Kemandirian Pertahanan

Di luar isu Gaza, Kementerian Pertahanan Israel mengumumkan proyek strategis jangka panjang bertajuk “Shield of Israel”. Inisiatif ini dirancang untuk memperkuat kedaulatan industri pertahanan domestik guna mengurangi ketergantungan pada pasokan alutsista dari sekutu luar negeri.

Komponen StrategisDetail Rencana
Proyeksi Anggaran350 Miliar Shekel (Sekitar Rp 1.913 Triliun)
Durasi Program10 Tahun (Jangka Panjang)
Tujuan UtamaPeningkatan kapasitas produksi senjata domestik
Visi EkonomiIntegrasi keamanan nasional dan stabilitas ekonomi

Meskipun mengakui Amerika Serikat sebagai sekutu strategis utama selama konflik, Katz menekankan bahwa kemandirian pertahanan adalah pilar utama bagi masa depan Israel. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa kebijakan pertahanan nasional tidak sepenuhnya terdikte oleh dinamika politik di Washington atau negara donor lainnya.

Analisis mengenai dinamika militer dan kebijakan pertahanan ini disusun berdasarkan pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Israel dan laporan diplomatik terkait implementasi rencana perdamaian regional yang dirilis pada Februari 2026.