Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi diproyeksikan meraih kemenangan signifikan dalam pemilihan umum sela yang digelar pada Minggu, 8 Februari 2026. Hasil ini mengonsolidasikan kekuatan politik blok penguasa dan berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik antara Jepang dengan Republik Rakyat China, terutama terkait isu kedaulatan di kawasan Indo-Pasifik.
Konsolidasi Kekuatan Politik dan Kebijakan Domestik
Proyeksi media lokal, yang dikutip AFP, menunjukkan bahwa Partai Demokrat Liberal (LDP) di bawah kepemimpinan Takaichi berhasil mengamankan mayoritas dua pertiga di majelis rendah. LDP diperkirakan merebut sekitar 300 dari total 465 kursi, meningkat tajam dari 198 kursi sebelumnya dan mengembalikan mayoritas absolut yang sempat hilang pada pemilu 2024. Sekretaris Jenderal LDP, Shunichi Suzuki, menyatakan, “Kami menerima dukungan untuk kebijakan fiskal yang bertanggung jawab dan proaktif dari Perdana Menteri Sanae Takaichi, serta penguatan kemampuan pertahanan nasional.”
Di sisi lain, aliansi Reformasi Sentris, yang merupakan gabungan dari Partai Demokrat Konstitusional (CDP) dan Komeito, diproyeksikan kehilangan lebih dari dua pertiga dari 167 kursi mereka. Sementara itu, partai Sanseito yang dikenal dengan sikap anti-imigrasi, diperkirakan menambah jumlah kursi dari dua menjadi antara 5-14.
Takaichi (64), yang dikenal sebagai pengagum Margaret Thatcher dan mantan musisi heavy metal, menempati sayap kanan LDP sebelum terpilih sebagai ketua partai dan perdana menteri pada Oktober 2025. Gaya komunikasi yang tegas dan kepribadiannya yang unik telah menjadikannya populer, terutama di kalangan pemilih muda. Namun, ia menghadapi tekanan domestik untuk memberikan hasil nyata di sektor ekonomi.
Dalam upaya meredam inflasi, Takaichi mendorong paket stimulus senilai 135 miliar dollar AS (sekitar Rp 2,27 kuadriliun) dan berjanji menangguhkan pajak konsumsi atas makanan. Kebijakan ini menuai kritik mengingat Jepang memiliki rasio utang publik lebih dari dua kali lipat Produk Domestik Bruto (PDB)-nya, memicu kekhawatiran di pasar global.
Implikasi Geopolitik: Ketegangan Jepang-China
Kemenangan Takaichi dikhawatirkan dapat memperburuk hubungan Jepang dan China. Belum genap sebulan menjabat, Takaichi menyatakan bahwa Jepang dapat melakukan intervensi militer apabila China menyerang Taiwan secara paksa. Pernyataan tersebut memicu kecaman keras dari Beijing, yang menganggap Taiwan sebagai bagian integral dari wilayahnya dan tidak menutup opsi penggunaan kekuatan untuk merebut pulau tersebut.
Situasi semakin memanas setelah kunjungan Takaichi yang disambut hangat oleh Presiden AS Donald Trump. China merespons dengan memanggil Duta Besar Jepang, mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya ke Jepang, serta menggelar latihan udara bersama Federasi Rusia. Beijing juga menarik kembali dua panda terakhir yang dipinjamkan ke Jepang bulan lalu, sebuah langkah yang sering diinterpretasikan sebagai sinyal diplomatik.
Presiden AS Donald Trump belum mengomentari langsung perselisihan tersebut, namun sebelumnya menyatakan dukungannya terhadap Takaichi sebagai “pemimpin kuat, berkuasa, dan bijaksana, yang benar-benar mencintai negaranya.”
Analisis mengenai dinamika politik dan respons diplomatik ini didasarkan pada laporan media internasional terkemuka dan pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Jepang serta Kementerian Luar Negeri Republik Rakyat China yang dirilis sepanjang Februari 2026.