Pemerintah Jerman mendesak Iran untuk segera membuka Selat Hormuz di tengah ancaman Donald Trump yang berencana menarik lebih dari 5.000 pasukan Amerika Serikat. Ketegangan ini bermula dari rencana penarikan ribuan personel militer AS dari wilayah Jerman akibat keretakan hubungan antara kedua negara.
Politikus Jerman, Wadephul, menegaskan kembali posisi negaranya yang sejalan dengan tuntutan Washington terkait krisis di kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut merespons kebijakan yang sebelumnya didorong oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Sikap Jerman Terkait Selat Hormuz
Melalui unggahan di media sosial X sebagaimana dilansir oleh AFP, Wadephul menyatakan bahwa Jerman dan Amerika Serikat memiliki visi yang sejalan. Ia menekankan pentingnya tindakan nyata dan terukur dari Teheran terkait penghentian program nuklir mereka.
“Sebagai sekutu dekat AS, kami memiliki tujuan yang sama: Iran harus sepenuhnya dan secara terverifikasi meninggalkan senjata nuklir dan segera membuka Selat Hormuz seperti yang juga dituntut oleh Menteri Luar Negeri (AS) Marco Rubio,” tulis Wadephul.
Respons Penarikan Pasukan AS
Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, turut merespons rencana penarikan lebih dari 5.000 pasukan AS dari wilayahnya. Pistorius secara tegas menilai keputusan yang diambil oleh Donald Trump tersebut sebagai langkah yang sudah dapat diprediksi.
Meski terdapat keretakan hubungan, Pistorius tetap menyoroti fungsi strategis dari keberadaan tentara sekutu di benua Eropa. “Kehadiran tentara Amerika di Eropa, dan khususnya di Jerman, adalah demi kepentingan kita dan kepentingan AS,” kata Pistorius seperti dilaporkan kantor berita DPA dan dilansir oleh BBC.
Kritik atas Strategi Washington
Di sisi lain, dinamika internal politik Jerman menunjukkan adanya pandangan yang berbeda terkait pendekatan terhadap konflik AS-Iran. Pada pekan lalu, tokoh politik Jerman, Merz, sempat menunjukkan sikap berseberangan dan melontarkan kritik terhadap negara sekutunya tersebut.
Merz secara terbuka menilai bahwa Amerika Serikat sedang dipermalukan oleh kepemimpinan Iran di kawasan Timur Tengah. Selain itu, ia juga mengecam kurangnya strategi komprehensif dari pihak Washington dalam menghadapi ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung.