Internasional

Kasus Jeffrey Epstein: Donald Trump Desak Penghentian Investigasi Usai Peninjauan Departemen Kehakiman

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menyerukan agar publik dan lembaga legislatif mengalihkan fokus dari penyelidikan kasus Jeffrey Epstein. Pernyataan ini menyusul pengumuman Departemen Kehakiman (DOJ) yang telah menyelesaikan peninjauan ekstensif terhadap dokumen-dokumen terkait tanpa menemukan dasar hukum untuk penuntutan baru.

Kesimpulan Peninjauan Departemen Kehakiman

Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat, Todd Blanche, mengonfirmasi bahwa proses peninjauan dokumen pemerintah yang diamanatkan oleh undang-undang sejak November lalu telah mencapai titik akhir. Meskipun terdapat ribuan korespondensi, email, dan foto yang diperiksa, Blanche menegaskan bahwa bukti-bukti tersebut tidak cukup kuat untuk meluncurkan dakwaan pidana baru terhadap pihak-pihak yang terlibat.

Dalam laporan resmi, nama Donald Trump tercatat muncul lebih dari 6.000 kali. Namun, DOJ menyatakan bahwa mayoritas penyebutan tersebut bersifat administratif atau berkaitan dengan hubungan sosial di masa lalu yang tidak mengindikasikan aktivitas kriminal. Trump sendiri menegaskan bahwa dirinya telah lama memutus hubungan dengan Epstein sejak awal dekade 2000-an.

Kontroversi Transparansi dan Bukti Digital

Skeptisisme meningkat setelah sejumlah dokumen sempat hilang dari situs resmi Departemen Kehakiman pada awal Februari. Hal ini memicu tuduhan dari faksi oposisi mengenai adanya upaya perlindungan terhadap integritas eksekutif. Salah satu bukti yang menjadi sorotan adalah email tahun 2011 dari Epstein kepada Ghislaine Maxwell, yang menyebut Trump sebagai pihak yang tidak terlibat dalam aktivitas ilegal di kediamannya.

  • Email 2011: Epstein mendeskripsikan Trump sebagai sosok yang tidak pernah disebut oleh para korban dalam konteks negatif.
  • Laporan FBI 2016: Terdapat daftar tip yang belum terverifikasi mengenai dugaan pelecehan, namun DOJ mengategorikannya sebagai klaim tanpa dasar.
  • Catatan 2002: Munculnya catatan yang diduga ditulis Trump untuk buku ulang tahun Epstein, meski keasliannya dibantah keras oleh pihak Gedung Putih.

Respon Legislatif dan Dampak Strategis

Pemimpin Minoritas Senat, Chuck Schumer, mempertanyakan kelengkapan rilis dokumen tersebut. Schumer mendesak pembukaan memo rekan konspirator dan laporan asli dari Departemen Kepolisian Palm Beach guna memastikan tidak ada informasi yang ditahan. Di sisi lain, para penyintas yang diwakili oleh Lisa Phillips menyatakan kekecewaan mendalam atas kegagalan DOJ dalam menjaga kerahasiaan identitas korban dan pemenuhan tenggat waktu rilis.

Secara politik, isu ini diperkirakan akan tetap menjadi instrumen tekanan di Capitol Hill. DPR AS telah menjadwalkan kesaksian dari Bill Clinton dan Hillary Clinton pada akhir Februari 2026. Jika terjadi pergeseran kekuatan pada pemilu sela mendatang, faksi Demokrat diprediksi akan menggunakan wewenang panggilan paksa (subpoena) untuk memperdalam investigasi terhadap tokoh-tokoh kunci dalam lingkaran Epstein.

Analisis mengenai perkembangan hukum dan transparansi dokumen ini didasarkan pada pernyataan resmi Departemen Kehakiman AS dan laporan dengar pendapat Kongres yang dirilis hingga 6 Februari 2026.