Internasional

Kematian Khamenei: Reza Pahlavi Serukan Militer Iran Membelot, Analis Tinjau Transisi Kekuasaan

Reza Pahlavi, putra mahkota terakhir Iran, pada Sabtu, 28 Februari 2026, mendeklarasikan kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sebagai “akhir de facto Republik Islam”. Pernyataan Pahlavi, yang menyerukan militer dan aparat keamanan untuk tidak lagi membela rezim, muncul menyusul laporan serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang mendahului wafatnya Khamenei, memicu analisis mendalam mengenai potensi transisi kekuasaan dan implikasinya terhadap stabilitas regional.

Seruan Pahlavi dan Dinamika Internal Iran

Dalam pernyataan yang diunggah di platform Instagram, Reza Pahlavi, 66 tahun, secara tegas menyatakan bahwa dengan wafatnya Ayatollah Ali Khamenei, 87 tahun, “Republik Iran secara efektif telah berakhir dan akan segera dibuang ke tong sampah sejarah.” Pahlavi juga mengkritik keras upaya sisa-sisa rezim untuk menunjuk pengganti, menegaskan bahwa “Siapa pun yang menggantikannya akan kekurangan legitimasi dan keberlanjutan.”

Secara spesifik, Pahlavi menyasar militer, aparat penegak hukum, dan semua organisasi keamanan Iran. Ia menyerukan mereka untuk “membelot” dari rezim yang ia sebut sedang runtuh, menekankan bahwa “Setiap upaya untuk melindungi rezim yang sedang runtuh akan gagal.” Pahlavi memandang ini sebagai “kesempatan terakhir untuk berdiri bersama bangsa, membantu Iran bertransisi dengan mulus menuju masa depan yang bebas dan makmur.”

Kepada rakyat Iran, Pahlavi mengakui bahwa “kematian Khamenei tidak dapat menghapus darah yang telah tertumpah dalam protes.” Namun, ia menambahkan bahwa peristiwa ini “dapat menjadi tangan penyembuh bagi hati yang terluka” dan menegaskan bahwa “waktu yang besar dan menentukan di jalanan sedang mendekat.” Ia menyerukan persatuan untuk “merayakan kebebasan Iran di tanah air kita.”

Reza Pahlavi, lahir di Teheran pada 1960 dan dinobatkan sebagai putra mahkota pada 1967, telah hidup dalam pengasingan di Amerika Serikat sejak Revolusi Islam 1979 menggulingkan dinasti Pahlavi. Sejak itu, ia aktif dalam gerakan oposisi di kalangan diaspora Iran, termasuk membentuk organisasi mirip pemerintahan di pengasingan pada 2013. Simbolisme politiknya sempat meningkat selama gelombang protes anti-pemerintah pada Desember 2025, di mana sebagian demonstran meneriakkan slogan yang menyerukan pemulihan monarki. Pada Konferensi Keamanan Munich bulan lalu, Pahlavi menyatakan, “Sudah waktunya mengakhiri Republik Islam. Tuntutan rakyat bukan untuk memperbaiki rezim, tetapi untuk sepenuhnya membongkarnya.”

Analisis Prospek Suksesi dan Stabilitas Regional

Meskipun seruan Pahlavi menarik perhatian, analisis dari berbagai pihak menunjukkan bahwa pengaruh politik riilnya di dalam negeri masih terbatas. Sebagai pemimpin di pengasingan yang tidak menginjakkan kaki di Iran selama lebih dari empat dekade, prospeknya untuk mengisi kekosongan kekuasaan dinilai kecil. Otoritas intelijen Amerika Serikat menilai bahwa setiap kekosongan kekuasaan pasca-Khamenei kemungkinan besar akan diisi oleh tokoh internal Garda Revolusi Islam (IRGC) atau elite politik lainnya, bukan melalui pemulihan monarki.

Dinamika suksesi di Iran memiliki implikasi strategis yang signifikan bagi kawasan Timur Tengah dan kekuatan global. Potensi perebutan kekuasaan internal dapat memicu ketidakstabilan, mempengaruhi kebijakan luar negeri Iran, terutama terkait program nuklir dan dukungan terhadap proksi regional. Laporan mengenai serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang mendahului wafatnya Khamenei menambah kompleksitas situasi, menyoroti kerentanan rezim terhadap tekanan eksternal dan internal.

Analisis mengenai pernyataan Reza Pahlavi didasarkan pada unggahan resmi di akun Instagram-nya pada 28 Februari 2026, serta laporan intelijen publik dan penilaian dari lembaga think tank yang fokus pada dinamika politik Iran.