Internasional

Ketegangan Regional: Pakistan dan Irak Protes Kematian Khamenei, Misi Diplomatik Perketat Keamanan

Gelombang kerusuhan anti-Amerika Serikat dan Israel meletus di Pakistan dan Irak menyusul laporan kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Laporan tersebut menyebutkan Khamenei tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Iran. Insiden ini memicu bentrokan mematikan, khususnya di Karachi, Pakistan, yang menewaskan sedikitnya sembilan orang, serta meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan.

Eskalasi Kerusuhan di Pakistan

Di Karachi, kota terbesar di Pakistan, massa demonstran berupaya menerobos kompleks Konsulat Amerika Serikat. Juru bicara pemerintah daerah melaporkan bahwa pengunjuk rasa membakar sebuah kendaraan di luar gerbang utama dan terlibat bentrok dengan aparat keamanan. Polisi mengonfirmasi sembilan korban jiwa, meskipun rincian penyebab kematian belum sepenuhnya jelas. Seorang diplomat di dalam konsulat memastikan seluruh staf dalam kondisi aman. Wartawan Reuters di lokasi melaporkan adanya suara tembakan dan penggunaan gas air mata di sekitar kompleks, sementara rekaman video menunjukkan demonstran membawa foto Khamenei dan meneriakkan slogan anti-Amerika dan anti-Israel.

Aksi protes serupa meluas ke wilayah lain di Pakistan. Di Skardu, wilayah Gilgit Baltistan yang mayoritas Syiah, demonstran membakar gedung kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Juru bicara pemerintah daerah Shabbir Mir kepada Reuters menyatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Sementara itu, di Lahore, ratusan orang berkumpul di luar Konsulat AS, memicu bentrokan kecil dengan polisi yang berhasil menghentikan upaya perusakan gerbang keamanan tanpa kekerasan serius, menurut saksi mata Aqeel Raza. Di ibu kota Islamabad, polisi menutup akses jalan menuju Zona Merah, area yang menampung misi diplomatik dan gedung parlemen, untuk mengantisipasi eskalasi lebih lanjut.

Ketegangan di Irak dan Respons Keamanan

Situasi serupa terjadi di Baghdad, Irak, di mana ratusan demonstran pro-Iran berkumpul di dekat Kedutaan Besar AS di Zona Hijau. Aparat keamanan Irak menembakkan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan massa yang meneriakkan slogan anti-AS dan anti-Israel. Hingga saat ini, otoritas Irak belum melaporkan adanya korban jiwa dari insiden tersebut.

Menyikapi peningkatan ketegangan, misi-misi diplomatik Barat di Pakistan telah memperketat protokol keamanan dan membatasi pergerakan staf di seluruh negeri, sebagaimana diungkapkan oleh sumber diplomatik. Sejumlah perusahaan multinasional yang beroperasi di Pakistan juga tengah meninjau situasi, mempertimbangkan langkah-langkah seperti pembatasan perjalanan udara dan peningkatan pengamanan di kantor serta lokasi pabrik mereka. Eskalasi ini menggarisbawahi kerentanan stabilitas regional terhadap peristiwa geopolitik besar dan potensi dampak pada kepentingan Barat di kawasan.

Analisis mengenai pergerakan massa dan respons keamanan ini didasarkan pada laporan dari kantor berita Reuters, pernyataan juru bicara pemerintah daerah Pakistan, serta informasi dari sumber diplomatik dan korporasi yang relevan dengan situasi keamanan regional.