Internasional

Ketidakpastian Geopolitik Iran: Dilema Warga di Tengah Tekanan Sanksi dan Potensi Intervensi Asing

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mencapai titik kritis seiring berlanjutnya negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat, di tengah peningkatan signifikan kehadiran militer AS di kawasan tersebut. Situasi ini, diperparat oleh tenggat waktu yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump, telah menciptakan iklim ketidakpastian akut bagi warga Iran, yang kini hidup dalam kondisi ‘bukan perang, bukan damai’ dan dihadapkan pada dilema strategis antara potensi konflik bersenjata atau perubahan rezim.

Dilema Warga di Tengah Tekanan Geopolitik

Warga Iran melaporkan kecemasan mendalam atas situasi yang tidak menentu. Mereka dihadapkan pada dua skenario utama: perang panjang yang berpotensi menghancurkan fasilitas dan infrastruktur vital negara, atau harapan akan pelonggaran sanksi, jatuhnya rezim Ayatollah Ali Khamenei, dan terciptanya kehidupan yang lebih normal. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sendiri menyebut kondisi ‘bukan perang, bukan damai’ ini sebagai hal yang berbahaya dan merugikan kepentingan nasional.

Kondisi domestik Iran semakin memanas pasca-aksi protes besar-besaran pada Januari lalu, yang diikuti peringatan 40 hari bagi para demonstran yang tewas. Sektor ekonomi Iran terus melemah, menyebabkan kenaikan harga yang signifikan dan penurunan nilai mata uang, menambah tekanan pada kehidupan sehari-hari warga.

Analisis Risiko Eskalasi Militer

Reza, seorang sopir bus di Maku, Iran, mengemukakan bahwa ketidakpastian ini dipicu oleh keengganan pemerintah Iran untuk berkompromi, khawatir akan merusak citra domestik dan internasionalnya. Ia memprediksi bahwa serangan AS akan jauh lebih besar dampaknya dibandingkan perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025, yang menewaskan lebih dari 610 orang dan melukai 4.700 lainnya, serta menargetkan fasilitas bandara, nuklir, energi, dan militer Iran.

Saeed, seorang insinyur otomotif, mencatat adanya kelompok warga yang menyambut dan menanti serangan AS, dengan optimisme bahwa itu akan menumbangkan Republik Islam. Namun, ia juga khawatir bahwa serangan AS yang terbatas dan gagal hanya akan memicu penindasan yang lebih kejam terhadap rakyat, terutama setelah respons mematikan terhadap pengunjuk rasa Januari lalu. Sebagian besar pemuda di Teheran juga menyatakan kesiapan untuk menghadapi perang demi perubahan, bahkan jika itu berarti kehilangan nyawa.

Dampak Sosial dan Kemanusiaan

Tindakan represif pasukan keamanan terhadap protes pada 7 dan 8 Januari lalu menyebabkan ribuan orang tewas dan terluka, serta puluhan ribu ditangkap di seluruh Iran. Kantor Kepresidenan Iran merilis daftar 2.986 orang tewas, dengan total korban jiwa mencapai 3.117 termasuk jenazah tanpa identitas. Namun, aktivis HAM, seperti HRANA, mengonfirmasi kematian 7.005 orang hingga 13 Februari, menunjukkan skala kekerasan yang jauh lebih besar.

Kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan pemerintah telah menyebabkan gelombang kemarahan dan duka yang tak berujung. Nasim, seorang editor di Karaj, telah melakukan persiapan menghadapi serangan AS, termasuk menempelkan selotip di jendela dan merencanakan evakuasi. Banyak warga juga mulai menimbun kebutuhan pokok, mencairkan aset, dan menghadapi pembatasan kredit oleh perusahaan, di tengah ketidakpastian masa depan.

Seorang ibu rumah tangga dari Teheran mengungkapkan bahwa banyak warga mendukung intervensi AS sebagai ‘operasi pembebasan’ dari rezim yang berkuasa. Ladan Moallem, seorang guru dari Bushehr, melihat serangan Amerika sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan rakyat, mengingat respons pemerintah yang tanpa ampun terhadap protes sebelumnya.

Posisi Internasional dan Respons AS

Presiden AS Donald Trump secara eksplisit mengancam akan mengambil tindakan militer jika pengunjuk rasa dibunuh, sebuah langkah yang menurut analis belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam pernyataan terbarunya, Trump mengindikasikan bahwa dunia akan mengetahui dalam waktu sekitar 10 hari apakah kesepakatan dengan Iran akan tercapai atau tindakan militer akan dilakukan.

Kondisi ini telah memicu stres dan kecemasan hebat di kalangan warga Iran, termasuk para lansia yang lebih rentan. Ahmed, seorang penjual furnitur di Teheran, menyatakan bahwa meskipun tidak mendukung perang, intervensi asing mungkin menjadi satu-satunya cara yang tersisa mengingat penindasan terhadap semua kelompok oposisi di dalam negeri. Ia juga menyuarakan kekhawatiran akan potensi kekacauan dan perang saudara pasca-intervensi, seperti yang terjadi di Irak dan Afghanistan, namun tetap berharap akan perubahan yang menguntungkan rakyat.

Analisis mengenai dinamika geopolitik Iran ini didasarkan pada laporan media internasional, pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri dan Pertahanan negara-negara terkait, serta data dari organisasi hak asasi manusia seperti HRANA yang dirilis hingga Februari 2026.