Internasional

Konflik Regional: Dampak Serangan Israel terhadap Stabilitas Kawasan dan Kalkulasi Politik Domestik Netanyahu

Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu, 28 Februari 2026, telah memicu eskalasi signifikan di Timur Tengah. Peristiwa ini, yang diikuti oleh serangan balasan Iran, terjadi di tengah dinamika politik domestik Israel yang krusial, memunculkan spekulasi mengenai kalkulasi strategis Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Analis menilai, waktu serangan ini berpotensi dimanfaatkan Netanyahu untuk memulihkan citra politiknya yang merosot pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Dengan tenggat waktu pengesahan anggaran pada 30 Maret 2026, kegagalan Netanyahu mendapatkan dukungan parlemen akan memicu jatuhnya pemerintahan pada 1 April dan memaksa pemilihan umum digelar lebih awal dari jadwal maksimal 27 Oktober 2026.

Dinamika Politik Domestik Israel

Popularitas Netanyahu telah tergerus secara signifikan menyusul serangan Hamas yang disebut sebagai hari paling mematikan dalam sejarah Israel. Kritikus menuduhnya gagal mencegah serangan tersebut, sementara ia juga menghadapi persidangan kasus korupsi yang berkepanjangan. Pemimpin partai Likud ini, yang merupakan perdana menteri terlama Israel, kehilangan mayoritas parlemen sejak musim panas lalu di tengah krisis dengan sekutu ultra-Ortodoksnya.

Emmanuel Navon, analis politik dari Universitas Tel Aviv, menyatakan bahwa Netanyahu kemungkinan besar akan mempercepat jadwal pemilu. “Sudah jelas. Dia tidak akan menunggu sampai Oktober mengingat peringatan 7 Oktober,” ujar Navon pada Selasa, 3 Maret 2026. Menurut Navon, posisi politik Netanyahu berangsur membaik setelah sempat berada di titik terendah.

Kalkulasi Strategis dan Pemulihan Citra

Netanyahu sendiri menegaskan bahwa hubungan dekatnya dengan Washington berperan penting dalam operasi militer tersebut, mengklaim hal itu memungkinkan Israel melakukan serangan telak ke Iran yang telah lama ia inginkan. Analis geopolitik independen Michael Horowitz berpendapat, “Serangan ini tak dapat disangkal memperkuat citra yang ingin dipupuk Netanyahu, citra yang terkait dengan slogan ‘kemenangan total’-nya.” Horowitz menambahkan bahwa Netanyahu ingin menunjukkan bahwa ini bukan sekadar slogan kampanye, melainkan agenda nasional dan strategi pemilunya.

Jajak pendapat terbaru mengindikasikan Partai Likud akan unggul jika pemilu digelar saat ini, berpotensi membuka jalan bagi Netanyahu untuk kembali membentuk pemerintahan, meskipun masih kekurangan mayoritas bersama sekutu-sekutu saat ini. Kemenangan atas Iran dinilai dapat mengubah kalkulasi politik tersebut secara signifikan.

Perspektif Kritis dan Risiko Eskalasi

Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa serangan ke Iran akan otomatis menguntungkan Netanyahu. Jurnalis Channel 13, Raviv Druker, berpendapat bahwa Netanyahu akan mencoba meyakinkan publik tentang kemenangan total meskipun itu hanya ilusi, sembari menekankan bahwa “Hamas masih menguasai Gaza, dan Iran tetaplah Iran bahkan setelah serangan Sabtu (28/2/2026).”

Ouriel Deskal, jurnalis di situs berita Walla, bahkan menilai waktu pecahnya konflik bisa berkaitan langsung dengan tenggat politik domestik. Ia menyebut Netanyahu mungkin sengaja memilih waktu perang untuk secara otomatis menunda—di bawah keadaan darurat—tenggat waktu 30 Maret untuk mengesahkan anggaran. Sebaliknya, Navon mengakui, “Jika perang melawan Iran ini sukses bagi Israel, itu akan menjadi kemenangan politik bagi Netanyahu.”

Horowitz mengingatkan adanya risiko jika konflik berkepanjangan. “Toleransi publik terhadap perang berkepanjangan dengan korban jiwa yang besar, ditambah biaya hidup tinggi, tetap sangat rendah,” ujarnya. Dalam perang pada Juni 2025, serangan rudal Iran menewaskan 30 orang di Israel. Sejak Sabtu, 28 Februari 2026, 10 orang dilaporkan tewas akibat serangan balasan Iran. Horowitz menekankan bahwa dukungan publik lebih banyak tertuju kepada militer ketimbang kepada Netanyahu, menyatakan bahwa “Popularitas tentara meningkat, bukan popularitas Netanyahu.”

Analisis mengenai dinamika geopolitik dan politik domestik ini didasarkan pada laporan media internasional, pernyataan resmi pejabat, serta pandangan dari analis politik dan geopolitik yang dirilis hingga Rabu, 04 Maret 2026.