Anggota Kongres Amerika Serikat, Ro Khanna, secara resmi mengungkap identitas enam individu yang sebelumnya disamarkan dalam dokumen terkait Jeffrey Epstein. Pengungkapan ini dilakukan setelah Khanna, bersama anggota Kongres Thomas Massie dari Partai Republik, meninjau berkas tanpa sensor di Departemen Kehakiman AS pada Selasa, 10 Februari 2026. Meskipun nama-nama tersebut muncul dalam dokumen, Khanna menegaskan tidak ada bukti kejahatan yang disampaikan terhadap mereka, dan tidak satu pun didakwa terkait kasus Epstein. Sebagian besar dokumen, menurut Khanna, masih disensor oleh otoritas.
Pembukaan Identitas Baru dan Seruan Transparansi
Dalam pidato resminya di sidang parlemen, Khanna menyatakan, “Jika kami menemukan enam pria yang mereka sembunyikan hanya dalam dua jam, bayangkan berapa banyak pria yang mereka tutupi dalam tiga juta berkas itu.” Ia menambahkan bahwa ketika ia dan Massie menunjukkan bagian yang disensor kepada pejabat Departemen Kehakiman, “mereka mengakui kesalahan mereka” dan kemudian membuka identitas tersebut. Insiden ini menyoroti dinamika kekuatan antara cabang legislatif dan eksekutif AS dalam isu transparansi dan akuntabilitas publik.
Latar Belakang Kasus Jeffrey Epstein
Jeffrey Epstein sendiri mengaku bersalah pada tahun 2008 atas tuduhan meminta layanan prostitusi dari anak di bawah umur, yang berujung pada hukuman 13 bulan penjara. Ia meninggal pada tahun 2019 dalam tahanan di New York, dengan kematian yang dinyatakan sebagai bunuh diri, saat menunggu persidangan atas dakwaan perdagangan seks. Kasus Epstein telah memicu penyelidikan ekstensif dan seruan untuk transparansi penuh mengenai jaringan individu yang terlibat.
Profil Individu yang Terungkap
Enam nama yang sempat disensor oleh Departemen Kehakiman AS dan kini terungkap adalah sebagai berikut:
- Leslie “Les” Wexner: Miliarder ritel berusia 88 tahun yang membangun kerajaan bisnis termasuk Victoria’s Secret. Wexner diketahui memiliki hubungan keuangan jangka panjang dengan Epstein, yang mengelola investasinya. Investigasi New York Times pada November lalu menyebut Wexner sebagai sosok yang meningkatkan status keuangan Epstein. Meskipun namanya pernah muncul dalam rilis dokumen terdahulu, kini terungkap bahwa FBI tampaknya pernah melabeli dirinya sebagai kemungkinan rekan konspirator Epstein, meskipun ia tidak menghadapi dakwaan pidana.
- Sultan Ahmed bin Sulayem: Pengusaha berbasis di Dubai yang memimpin DP World, perusahaan pelabuhan dan logistik multinasional. Dokumen yang baru dibuka menunjukkan bahwa Sulayem mengirim email kepada Epstein pada tahun 2015, menyebut pertemuan dengan seorang perempuan dan pengalaman seksual dengannya. Massie juga mengatakan bahwa Departemen Kehakiman mengonfirmasi Sulayem adalah penerima email dari Epstein yang berisi kalimat, “Saya menyukai video penyiksaan itu.” Namun, tidak ada tuduhan pidana yang diumumkan terhadapnya.
- Nicola Caputo: Politikus Italia yang pernah menjadi anggota Parlemen Eropa. Namun, tidak ada bukti terverifikasi bahwa individu yang disebut dalam dokumen adalah orang yang sama, dan belum ada organisasi berita besar yang menguatkan kaitan langsung antara Caputo dan berkas Epstein.
Selain itu, terdapat tiga nama lain yang belum diketahui secara pasti identitasnya, yaitu Salvatore Nuara, Zurab Mikeladze, dan Leonic Leonov. Khanna menekankan bahwa pembukaan nama-nama ini baru sebagian kecil dari keseluruhan dokumen yang masih disensor, mengindikasikan potensi implikasi lebih lanjut terhadap akuntabilitas elit global.
Implikasi Strategis dan Seruan Transparansi
Pengungkapan ini menggarisbawahi pentingnya transparansi dalam sistem peradilan dan potensi dampak terhadap kepercayaan publik terhadap institusi hukum. Seruan Khanna dan Massie untuk transparansi lebih lanjut dari Departemen Kehakiman mencerminkan upaya legislatif untuk memastikan akuntabilitas penuh dalam kasus-kasus sensitif yang melibatkan individu-individu berpengaruh. Dinamika ini menunjukkan pergeseran dalam tekanan publik dan politik terhadap otoritas untuk membuka informasi yang sebelumnya dirahasiakan, yang dapat memengaruhi persepsi global terhadap penegakan hukum di Amerika Serikat.
Analisis mengenai pembukaan dokumen ini didasarkan pada pernyataan resmi anggota Kongres Ro Khanna dan Thomas Massie di sidang parlemen pada 10 Februari 2026, serta peninjauan berkas tanpa sensor di Departemen Kehakiman AS.