Internasional

Konsolidasi Kekuasaan Kim Jong Un: Dampak Pengukuhan Pimpinan Partai Buruh terhadap Dinamika Semenanjung Korea

PYONGYANG – Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, kembali mengukuhkan posisinya sebagai Sekretaris Jenderal Partai Buruh Korea (WPK) pada Rabu, 25 Februari 2026. Penetapan ini, yang terjadi dalam kongres lima tahunan WPK, segera diikuti oleh serangkaian pujian masif dari media resmi pemerintah, Rodong Sinmun, yang menyoroti kepemimpinan Kim sebagai pilar stabilitas dan kemajuan strategis.

Pengukuhan kekuasaan ini berlangsung di tengah dinamika geopolitik Semenanjung Korea yang kompleks, di mana Pyongyang terus berupaya memperkuat kapabilitas militer dan mempertahankan kedaulatan teritorialnya.

Konsolidasi Kekuasaan dan Narasi Resmi

Dalam tajuk rencana yang diterbitkan Rodong Sinmun, pemilihan kembali Kim Jong Un diklaim sebagai buah dari pencapaian “tak terbayangkan” selama lima tahun terakhir. Media tersebut secara spesifik menyatakan bahwa prestasi Kim setara dengan apa yang biasanya membutuhkan waktu berabad-abad untuk dicapai oleh pihak lain.

Laporan tersebut, yang juga dikutip oleh Wall Street Journal, menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, Korea Utara telah mencapai “kekuatan militer absolut pada tingkat tertinggi.” Rodong Sinmun menyoroti tiga “mukjizat” yang dikaitkan dengan pemimpin berusia 42 tahun itu: pengawasan langsung penyelamatan warga dari bencana banjir besar, revitalisasi wilayah terdampak parah, serta penyelesaian pembangunan pertanian rumah kaca modern.

Editorial tersebut secara eksplisit menyatakan, “Kamerad Kim Jong Un yang terhormat adalah orang terhebat di dunia,” sebuah narasi yang konsisten dengan upaya indoktrinasi yang telah lama menjadi ciri khas rezim Pyongyang.

Analisis Strategi Rezim

Pengkultusan sosok pemimpin seperti Kim Jong Un dinilai sebagai strategi krusial untuk menjaga stabilitas rezim dan meredam potensi ancaman kudeta internal. Narasi kepemimpinan yang tiada tanding ini berfungsi untuk menutupi realitas internal Korea Utara, termasuk isu kemiskinan, kekurangan gizi kronis, dan pelanggaran hak asasi manusia yang sering dilaporkan oleh lembaga internasional.

Tantangan signifikan bagi rezim adalah indoktrinasi penduduk, khususnya generasi muda, yang kini dihadapkan pada masuknya media asing secara ilegal. Media-media ini secara perlahan memperlihatkan kemakmuran dunia luar, menciptakan kontras dengan kondisi domestik.

Meskipun demikian, para pembelot Korea Utara sering mengakui bahwa melepaskan pengaruh pengidolaan terhadap Kim Jong Un merupakan salah satu adaptasi tersulit saat mereka mencoba hidup di luar negeri. Rodong Sinmun menutup laporannya dengan nada optimistis, mengklaim bahwa pengangkatan kembali Kim telah membawa “kegembiraan yang meluap-luap” di seluruh lapisan masyarakat dan menjanjikan “masa depan yang sangat cerah dan menjanjikan.”

Analisis mengenai konsolidasi kekuasaan ini didasarkan pada laporan media resmi Korea Utara, Rodong Sinmun, serta tinjauan dari publikasi internasional seperti Wall Street Journal yang dirilis pada 25 Februari 2026.