Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara resmi membuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Board of Peace di Washington DC pada Kamis (19/2/2026). Dalam forum perdana tersebut, Trump memberikan apresiasi tinggi terhadap kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto, yang dinilai sebagai figur kunci dalam stabilitas regional dan global. Pengakuan ini muncul di tengah upaya Washington menggalang dukungan internasional untuk resolusi konflik di Timur Tengah.
Dinamika Diplomasi dan Pengakuan Kekuatan Strategis
Dalam pidato pembukaannya, Trump menekankan bahwa Indonesia merupakan negara dengan pengaruh besar, merujuk pada populasi yang mencapai 240 juta jiwa. Ia menyebut Prabowo sebagai pemimpin yang tangguh dan dihormati secara internasional. Pernyataan ini mencerminkan pengakuan eksplisit Washington terhadap posisi tawar Jakarta dalam peta geopolitik kontemporer, terutama dalam menjembatani kepentingan blok Barat dengan negara-negara berkembang.
Presiden Prabowo Subianto hadir dalam barisan depan bersama Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Sheikh Abdullah bin Zayed Al Nahyan. Kehadiran ini menegaskan peran aktif Indonesia dalam inisiatif multilateral yang diprakarsai oleh Amerika Serikat untuk menangani krisis kemanusiaan dan keamanan di kawasan konflik.
Inisiatif Board of Peace dan Stabilisasi Gaza
Fokus utama KTT ini adalah pembentukan mekanisme perdamaian permanen di Jalur Gaza, Palestina. Trump mengumumkan bahwa Board of Peace telah menghimpun dana bantuan sebesar 7 miliar dolar AS dari berbagai negara donor, termasuk Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Selain itu, Amerika Serikat berkomitmen memberikan kontribusi tambahan senilai 10 miliar dolar AS guna mendukung operasional dewan tersebut.
Mobilisasi Pasukan Perdamaian Multinasional
Sebagai bagian dari resolusi konflik, sejumlah negara telah menyatakan kesiapan untuk mengerahkan personel militer guna memulihkan situasi keamanan di Gaza. Indonesia, bersama Maroko, Albania, Kosovo, dan Kazakhstan, menjadi kontributor utama dalam penyediaan pasukan perdamaian tersebut. Langkah ini dipandang sebagai pergeseran strategis dalam keterlibatan militer internasional di kawasan tersebut.
- Indonesia: Komitmen pengiriman personel TNI untuk misi stabilisasi dan bantuan kemanusiaan.
- Amerika Serikat: Dukungan pendanaan strategis sebesar 10 miliar dolar AS.
- Negara Donor: Total bantuan kemanusiaan dari aliansi mencapai 7 miliar dolar AS.
Analisis mengenai keterlibatan militer dan komitmen diplomatik ini didasarkan pada pernyataan resmi yang dirilis oleh sekretariat KTT Board of Peace dan laporan Kementerian Pertahanan terkait yang dipublikasikan pada 20 Februari 2026.