Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah dalam melestarikan warisan budaya dan spiritual bangsa melalui kunjungannya ke Vihara Mendut. Kunjungan ke vihara umat Buddha Mahayana tersebut bertujuan mempererat kebersamaan sekaligus mendorong kawasan Candi Borobudur sebagai living heritage atau warisan yang hidup.
Nilai Historis 50 Tahun Vihara Mendut
Fadli Zon menyebut Vihara Mendut, yang berada dalam satu kawasan dengan Candi Mendut, memiliki nilai historis yang sangat penting. Tempat peribadatan tersebut genap berusia 50 tahun pada 2026.
“Vihara ini dibangun pada tahun 1976, dan pada 2026 ini tepat berusia 50 tahun. Saya mengapresiasi peran Bhante Pannavaro yang sejak awal telah menjadi pemimpin umat di vihara ini, sekaligus menyaksikan perkembangan dan menjaga nilai-nilai luhur yang ada,” kata Fadli Zon dalam keterangannya, Minggu (3/5/2026).
Pemasangan Chattra di Candi Borobudur
Dalam pertemuan tersebut, Fadli Zon juga berdiskusi dengan Bhante Pannavaro mengenai nilai ajaran Buddha dan simbol suci, termasuk Chattra. Simbol berbentuk mahkota atau payung ini memiliki makna fundamental bagi umat Buddha sebagai wujud penghormatan, pelindungan, serta amalan tertinggi.
“Setiap situs agama Buddha memiliki Chattra, mahkota, atau payung. Di relief Candi Borobudur, jumlahnya sangat banyak. Ini selaras dengan aspirasi kita menjadikan Borobudur sebagai living heritage yang harus direalisasikan, tentu dengan dukungan organisasi-organisasi Buddha dan masyarakat luas,” ujarnya.
Makna Budaya Peringatan Tri Suci Waisak
Lebih lanjut, Fadli Zon menekankan bahwa peringatan Tri Suci Waisak bukan sekadar hari besar keagamaan. Momen penting ini juga memiliki dimensi kebudayaan yang luas bagi peradaban bangsa Indonesia.
“Waisak menjadi momentum untuk merenungkan kembali makna ajaran Dharma sebagai pedoman hidup menuju kebijaksanaan dan kasih sayang, sekaligus memperteguh toleransi, persatuan, serta kedamaian dalam masyarakat majemuk. Ini bukan hanya perayaan umat Buddha, tetapi juga bagian dari perjalanan budaya dan peradaban bangsa,” tuturnya.
Dukungan Penuh Pelestarian Budaya
Kunjungan kerja ini didampingi oleh sejumlah pejabat, antara lain Direktur Utama Taman Wisata Borobudur Febrina Intan, Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya Basuki Teguh Yuwono. Hadir pula Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat Sjamsul Hadi, Direktur Warisan Budaya Agus Widiatmoko, Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Esti Nurjadin, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah Riris Purbasari.
Melalui langkah kolaboratif ini, Kementerian Kebudayaan terus memperkuat pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Komitmen nyata tersebut menjadi elemen penting dalam pengelolaan living heritage agar keberadaannya terus memberikan manfaat positif bagi masyarakat luas.