Citra satelit komersial terbaru mengindikasikan dugaan serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz Iran pada awal Maret 2026, terjadi di tengah operasi udara yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel di kawasan tersebut. Laporan dari Institut untuk Sains dan Keamanan Internasional, sebuah lembaga kebijakan independen, yang dirilis pada Senin (2/3/2026), menyoroti insiden ini sebagai eskalasi potensial dalam dinamika geopolitik regional.
Peristiwa ini kembali menempatkan program nuklir Iran di bawah sorotan tajam, memicu perdebatan antara Teheran dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengenai status keamanan situs-situs vitalnya.
Laporan dan Temuan Awal
Analisis citra satelit yang diproduksi oleh perusahaan Vantor berbasis di Colorado, menunjukkan adanya dua titik serangan pada akses menuju pabrik pengayaan uranium bawah tanah di Natanz. David Albright, mantan inspektur nuklir PBB dan pendiri Institut tersebut, menyatakan bahwa serangan terbaru diduga terjadi antara Minggu (1/3/2026) sore hingga Senin (2/3/2026) pagi waktu setempat, berdasarkan tinjauan timnya.
Albright tidak dapat memastikan aktor di balik serangan tersebut, apakah AS atau Israel, namun mengonfirmasi bahwa Ben Tzion Macales, seorang geoanalis asal Israel, adalah pihak pertama yang mengidentifikasi citra satelit terkait. Fasilitas Natanz sebelumnya telah menjadi sasaran serangan pada Juni 2025, dalam konteks Perang 12 Hari Iran-Israel, yang menyebabkan kerusakan signifikan.
Dinamika Klaim dan Bantahan
Temuan Albright memperkuat pernyataan Reza Najafi, utusan Iran untuk IAEA, yang sebelumnya menyebut Natanz telah dihantam pada 1 Maret 2026. Namun, pernyataan ini bertentangan dengan Direktur Jenderal IAEA, Raphael Grossi, yang menegaskan tidak ada indikasi fasilitas nuklir Iran terkena serangan.
Albright menduga bahwa Grossi mungkin merujuk pada citra satelit yang diambil sebelum data terbaru diperoleh lembaganya, yang menjelaskan perbedaan klaim tersebut. Hingga saat ini, IAEA belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan komentar, begitu pula Gedung Putih dan Komando Pusat AS.
Dampak Kerusakan pada Fasilitas Natanz
Laporan Albright merinci bahwa citra Vantor memperlihatkan tiga bangunan di Natanz mengalami kerusakan parah. Dua bangunan yang hancur berfungsi sebagai pintu masuk personel menuju dua aula bawah tanah yang menampung ribuan sentrifugal, mesin krusial untuk pengayaan uranium.
Meskipun aula bawah tanah tersebut dinyatakan tidak dapat dioperasikan setelah serangan Juni 2025, laporan mengindikasikan kemungkinan masih terdapat sentrifugal atau peralatan terkait lainnya yang dapat dipulihkan. Satu bangunan lain yang hancur diketahui menutupi satu-satunya akses kendaraan menuju aula bawah tanah, memperparah kerusakan infrastruktur vital tersebut.
Implikasi Geopolitik dan Program Nuklir Iran
Program nuklir Iran tetap menjadi salah satu pemicu utama operasi udara AS dan Israel, yang menuduh Teheran semakin mendekati kemampuan memproduksi senjata nuklir. Iran secara konsisten membantah tuduhan ini, menegaskan bahwa programnya murni untuk tujuan damai dan tidak berupaya memiliki persenjataan nuklir.
Insiden di Natanz terjadi di tengah upaya mediasi Oman untuk pembicaraan antara Iran dan AS mengenai isu nuklir, yang menurut Grossi, “kesepahaman tidak tercapai kali ini.” Kegagalan dialog ini, ditambah dengan dugaan serangan, memperkeruh prospek stabilitas regional dan diplomasi nuklir.
Analisis mengenai pergerakan militer dan kerusakan fasilitas ini didasarkan pada citra satelit komersial dan pernyataan resmi dari Institut untuk Sains dan Keamanan Internasional yang dirilis pada 2 Maret 2026, serta pernyataan dari pejabat Iran dan IAEA.