Kematian Saif al-Islam Gaddafi, putra kedua mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi, menandai babak baru dalam ketidakpastian politik di Libya. Saif dilaporkan tewas pada Selasa (3/2/2026) dalam sebuah serangan terencana di kediamannya di Zintan, wilayah barat daya Tripoli. Insiden ini mengakhiri spekulasi panjang mengenai peran politik figur yang pernah dipandang sebagai calon penerus sekaligus reformis di negara tersebut.
Kronologi Serangan dan Klaim yang Bertentangan
Berdasarkan laporan dari tim politik Gaddafi yang dikutip oleh Al Jazeera, serangan dilakukan oleh empat pria bertopeng yang menyerbu rumah Saif. Para pelaku dilaporkan melumpuhkan sistem kamera pengawas (CCTV) sebelum melancarkan aksi mereka. Meskipun Saif sempat melakukan perlawanan, ia dinyatakan tewas di lokasi kejadian dalam apa yang disebut oleh pendukungnya sebagai pembunuhan yang terencana.
Namun, terdapat perbedaan laporan mengenai lokasi pasti insiden tersebut. BBC melaporkan pernyataan dari saudara perempuan Saif yang menyebutkan bahwa ia tewas di wilayah dekat perbatasan Aljazair. Hingga saat ini, otoritas keamanan di Zintan maupun pemerintah pusat di Tripoli belum memberikan konfirmasi resmi mengenai detail teknis pengejaran para pelaku yang identitasnya masih misterius.
Rekam Jejak Politik dan Status Hukum Internasional
Saif al-Islam merupakan figur sentral dalam dinamika kekuasaan Libya selama dua dekade terakhir. Lulusan London School of Economics ini sempat menjadi jembatan diplomasi antara Libya dan Barat, termasuk dalam negosiasi pembatalan program senjata pemusnah massal. Namun, posisinya berubah drastis saat revolusi 2011, di mana ia memilih setia kepada rezim ayahnya dan terlibat dalam penindasan terhadap kelompok oposisi.
Status hukum Saif tetap menjadi isu sensitif bagi stabilitas nasional:
- Mahkamah Pidana Internasional (ICC): Saif masuk dalam daftar pencarian atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan sejak 2011.
- Hukuman Mati 2015: Pengadilan di Tripoli menjatuhkan vonis mati in absentia, meski ia kemudian dibebaskan melalui program amnesti pada 2017.
- Pencalonan Presiden 2021: Upaya Saif untuk kembali ke panggung politik melalui pemilu memicu polarisasi tajam antara faksi-faksi di Libya barat dan timur.
Dampak Strategis terhadap Stabilitas Regional
Kematian Saif diprediksi akan mengubah peta kekuatan politik di Libya, terutama di kalangan loyalis rezim lama yang masih memiliki pengaruh di beberapa wilayah selatan dan barat. Mantan kepala Dewan Negara Tinggi Libya, Khaled Al Mishri, telah mendesak dilakukannya penyelidikan transparan untuk mencegah eskalasi ketegangan antar-milisi di kawasan Zintan yang selama ini menjadi basis perlindungan Saif.
Analisis mengenai dampak keamanan pasca-insiden ini didasarkan pada laporan lapangan Fawasel Media dan pernyataan resmi dari penasihat politik keluarga Gaddafi yang dirilis pada Februari 2026.