Internasional

Malaysia: Industri Durian Terpukul Pergeseran Standar Konsumen China, Picu Kelebihan Pasokan Regional

Industri durian Malaysia menghadapi gejolak signifikan menyusul pergeseran fundamental dalam preferensi pasar konsumen di Republik Rakyat China. Lonjakan permintaan durian beku yang sempat mendorong ekspansi besar-besaran kini berbalik arah, dengan pembeli China beralih memburu durian utuh yang segar. Kondisi ini memicu kelebihan pasokan masif dan anjloknya harga, mengancam stabilitas ekonomi ribuan petani di Malaysia.

Pergeseran Preferensi Konsumen China dan Tantangan Logistik

Perubahan selera konsumen China menjadi pemicu utama krisis ini. Jika sebelumnya durian beku menjadi komoditas ekspor andalan Malaysia, kini pasar menuntut durian segar utuh. Eric Chan, Presiden Asosiasi Produsen Durian Malaysia, menekankan urgensi adaptasi rantai pasokan. “Kita perlu memastikan rantai pasokan dapat mengakomodasi perubahan dalam ekspor durian segar ini,” ujarnya, menyoroti keterbatasan penerbangan kargo dari Malaysia ke China yang mampu mendukung pengiriman produk segar secara efisien.

Kelebihan Produksi dan Anjloknya Harga Komoditas

Pergeseran permintaan ini bertepatan dengan lonjakan produksi durian di Malaysia. Ekspansi perkebunan yang masif antara 2016 hingga 2019, didorong oleh prospek keuntungan pasar China, kini menjadi bumerang. Pada Desember lalu, harga durian anjlok hingga 10 ringgit (sekitar Rp 35.000) per kilogram, hanya sepersepuluh dari harga normal, memicu apa yang disebut petani sebagai “tsunami durian”. Data pemerintah Malaysia mencatat, luas perkebunan durian meningkat dari 163.000 hektare pada 2016 menjadi lebih dari 227.000 hektare pada 2024, dengan produksi nasional mencapai 568.000 ton. Proyeksi untuk tahun 2026 menunjukkan peningkatan lebih lanjut menjadi 590.000 ton, memperparah ketidakseimbangan pasokan-permintaan.

Dinamika Persaingan Regional dan Ambisi Swasembada China

Selain perubahan selera, industri durian Malaysia juga menghadapi persaingan regional yang semakin ketat. Lim Chin Khee, penasihat Durian Academy, mengindikasikan bahwa perlambatan ekonomi China telah membuat pembeli lebih selektif dan agresif dalam negosiasi harga. Malaysia kini bersaing ketat dengan eksportir lain seperti Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Sam Tan, Presiden Asosiasi Eksportir Durian Malaysia, memprediksi tekanan harga serupa juga akan dialami Thailand saat musim puncak pada April mendatang. Lebih lanjut, muncul kekhawatiran serius mengenai upaya China untuk mencapai “kebebasan durian” atau swasembada dengan menanam durian sendiri. Ken Tan dari Perkebunan Durianhill di Penang melaporkan penurunan ekspor ke China sebesar 40 persen musim ini dibandingkan tahun sebelumnya.

Respons Domestik dan Proyeksi Pasar

Di tengah krisis ini, konsumen domestik Malaysia justru menikmati harga durian yang lebih terjangkau, setelah sebelumnya mengeluhkan tingginya harga akibat permintaan ekspor. Pemerintah Malaysia telah mengambil langkah intervensi dengan membeli sebagian buah yang berlebih guna menstabilkan pasar dan membantu petani. Sementara itu, para eksportir mulai menjajaki pasar alternatif seperti Taiwan dan Peru, meskipun skala pasar tersebut jauh lebih kecil dibandingkan China. Stephen Chow, pengelola Chow Kai Pheng Enterprise, memperkirakan kelebihan pasokan akan berlanjut selama tiga hingga lima tahun ke depan, menandakan bahwa situasi yang dialami Malaysia saat ini hanyalah permulaan dari tantangan yang lebih besar.

Analisis mengenai dinamika pasar durian ini didasarkan pada laporan media internasional dan data statistik resmi Kementerian Pertanian dan Industri Makanan Malaysia yang dirilis hingga Februari 2026.