Pada Sabtu, 21 Februari 2026, Filipina dan Amerika Serikat memulai latihan militer gabungan berskala besar, ‘Balikatan 2026’, di perairan strategis Laut Cina Selatan. Latihan ini dipandang sebagai upaya signifikan untuk memperkuat interoperabilitas pertahanan dan menegaskan kebebasan navigasi di tengah meningkatnya ketegangan regional. Manuver ini melibatkan ribuan personel dari kedua negara, serta aset maritim dan udara canggih.
Latar Belakang dan Tujuan Latihan
Latihan ‘Balikatan’, yang berarti ‘bahu-membahu’ dalam bahasa Tagalog, telah menjadi pilar aliansi pertahanan antara Filipina dan Amerika Serikat selama beberapa dekade. Edisi tahun ini berfokus pada skenario pertahanan teritorial maritim, operasi amfibi, dan respons terhadap ancaman non-tradisional. Latihan ini secara eksplisit dirancang untuk meningkatkan kemampuan Filipina dalam mempertahankan zona ekonomi eksklusifnya (ZEE) dan wilayah kedaulatan.
Pernyataan Resmi Manila dan Washington
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Filipina, Kolonel Ricardo Santos, menyatakan bahwa latihan ini adalah demonstrasi komitmen bersama terhadap perdamaian dan stabilitas regional. “Ini adalah pesan yang jelas bahwa kami siap melindungi kedaulatan dan kepentingan nasional kami, sejalan dengan hukum internasional,” ujarnya. Dari pihak Amerika Serikat, Komandan Armada Pasifik, Laksamana John F. Kennedy, menekankan pentingnya aliansi dalam menjaga tatanan berbasis aturan di Indo-Pasifik. “Kehadiran kami di sini menegaskan dedikasi kami terhadap sekutu dan mitra, serta kebebasan navigasi yang vital bagi perdagangan global,” kata Laksamana Kennedy.
Dinamika Geopolitik dan Reaksi Regional
Pelaksanaan latihan di Laut Cina Selatan, khususnya di area yang berdekatan dengan fitur maritim yang disengketakan, telah memicu perhatian dari negara-negara di kawasan. Beijing, melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Wang Li, menyatakan keprihatinan atas apa yang disebutnya sebagai “eskalasi militer yang tidak perlu” dan “campur tangan kekuatan eksternal” di wilayah tersebut. Wang Li menegaskan kembali klaim kedaulatan Tiongkok atas sebagian besar Laut Cina Selatan dan mendesak semua pihak untuk menahan diri.
Kapabilitas Militer yang Dikerahkan
Latihan ini melibatkan pengerahan kapal perang kelas fregat dan perusak dari Angkatan Laut AS, termasuk kapal induk USS Ronald Reagan, serta jet tempur F-16 dan pesawat pengintai P-8 Poseidon. Filipina mengerahkan kapal patroli baru BRP Jose Rizal dan BRP Antonio Luna, serta unit Marinir dan Angkatan Udara. Fokus utama latihan adalah pada koordinasi pengawasan maritim, pertahanan udara terintegrasi, dan operasi pendaratan amfibi di pulau-pulau strategis.
Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada citra satelit dan pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Filipina serta Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang dirilis pada 20 dan 21 Februari 2026.