BEIJING – Sebuah tren sosial yang unik dan berkembang pesat tengah merekonstruksi dinamika interaksi personal di ranah digital China. Ribuan generasi muda di negara tersebut kini secara aktif mencari dan membayar jasa ‘teguran berbayar’ dari para influencer media sosial untuk mengatasi apa yang mereka sebut sebagai ‘otak cinta’ – kondisi kehilangan rasionalitas akibat obsesi asmara. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan pergeseran dalam pencarian dukungan emosional, tetapi juga menyoroti munculnya ‘ekonomi emosional’ yang signifikan.
Fenomena ‘Otak Cinta’ dan Jasa Teguran Berbayar
Istilah ‘otak cinta’ telah populer di China untuk menggambarkan individu yang terjerat dalam hubungan asmara hingga mengabaikan logika dan realitas. Kondisi ini memicu munculnya layanan daring yang menawarkan teguran keras sebagai bentuk ‘terapi’ emosional. Para influencer memanfaatkan platform siaran langsung untuk memberikan kritik tajam kepada klien yang mencurahkan isi hati mereka.
Taozai, seorang influencer dengan hampir dua juta pengikut, memimpin tren ini dengan menawarkan keanggotaan tahunan seharga 1.800 yuan (sekitar Rp 4,3 juta). Keanggotaan ini memberikan hak istimewa untuk konsultasi privat atau prioritas dalam sesi siaran langsung. Dalam salah satu sesi yang viral, Taozai menegur seorang klien yang terus-menerus memberikan kasih sayang kepada pasangan yang tidak responsif, menyatakan, “Kamu sama saja. Hanya lalat yang hinggap di kotoran.”
Demikian pula, Xiakespeare, atau Zhou Lijuan, menjadi viral setelah memberikan tanggapan lugas kepada seorang wanita yang mengeluh tentang pasangannya yang tiba-tiba berhenti membalas pesan. Zhou menanggapi dengan retoris, “Siapa yang tiba-tiba berhenti membalas saat sedang asyik mengobrol? Apakah karena tidak ada sinyal di kuburannya?”
Dampak Psikologis dan Ekonomi Tren Digital
Layanan ‘teguran berbayar’ ini menawarkan alternatif yang lebih terjangkau dibandingkan konseling psikologi tradisional. Di berbagai platform e-commerce China, banyak toko menjual jasa serupa, dengan beberapa mencapai lebih dari 3.000 penjualan bulanan. Paket layanan bervariasi, termasuk panggilan teguran 30 menit seharga 60 yuan (sekitar Rp 145.000). Seorang pengguna menyatakan bahwa sesi 30 menit tersebut membantunya melupakan mantan, mengklaim bahwa itu “jauh lebih murah daripada pergi ke terapis.” Sebagai perbandingan, konsultasi tatap muka dengan psikolog di kota-kota besar China umumnya berkisar antara 500 yuan (Rp 1,2 juta) hingga 2.000 yuan (Rp 4,8 juta) per jam.
Fenomena ini juga merupakan bagian dari tren ‘ekonomi emosional’ yang semakin meluas di China. Laporan industri menunjukkan bahwa pasar ekonomi emosional negara itu mencapai 2,3 triliun yuan pada tahun 2024 dan diproyeksikan melampaui 4,5 triliun yuan pada tahun 2029. Pergeseran ini mencerminkan kecenderungan konsumen untuk membeli ‘kebahagiaan’ atau pengalaman emosional, bukan hanya barang fisik.
Analisis Pakar dan Implikasi Sosial
Para psikolog menganalisis bahwa individu yang mencari jasa teguran ini sebenarnya tidak mencari penghinaan, melainkan mendambakan pengakuan, pemahaman, dan bimbingan. Zhang Yong, seorang konselor psikologi dan profesor pekerjaan sosial di Universitas Sains dan Teknologi Wuhan, menjelaskan bahwa ketika seseorang diliputi emosi negatif, mekanisme pertahanan kognitif otak menghambat refleksi diri. Dalam konteks ini, “umpan balik eksternal yang kuat, seperti teguran, lebih mungkin memicu kesadaran diri.”
Anonimitas yang ditawarkan oleh media sosial juga berperan penting, mengurangi rasa malu peserta dan mendorong mereka untuk berbagi cerita secara terbuka. Namun, Zhang memperingatkan tentang potensi risiko kurangnya kualifikasi dan pengawasan yang memadai dari para influencer, yang dapat menyebabkan pandangan keliru tentang cinta dan hubungan. Tren serupa juga terlihat dalam gaya pengajaran bahasa Inggris yang ketat oleh “guru iblis” Liu Xiaoyan, di mana pendekatan kerasnya diklaim membangkitkan energi dan kepercayaan diri siswa.
Analisis mengenai fenomena sosial ini didasarkan pada laporan yang diterbitkan oleh South China Morning Post (SCMP) pada Rabu, 11 Februari 2026, yang mengulas dinamika interaksi sosial dan ekonomi digital di China.