Meksiko menghadapi gelombang kekerasan terkoordinasi di lebih dari 20 negara bagian menyusul tewasnya Nemesio Oseguera Cervantes, alias El Mencho, pemimpin Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG), dalam operasi keamanan pada Rabu, 25 Februari 2026. Kematian gembong narkoba paling berpengaruh ini memicu kekhawatiran akan eskalasi perang kartel yang dapat mengancam stabilitas nasional dan persiapan Piala Dunia FIFA 2026.
Latar Belakang Operasi dan Profil El Mencho
Nemesio Oseguera Cervantes merupakan salah satu tokoh sentral dalam perdagangan narkoba internasional. Menurut platform investigasi Insight Crime, Oseguera memulai karier kriminalnya setelah sebelumnya menjadi petugas kepolisian, bahkan pernah dipenjara di AS pada tahun 1990-an atas pelanggaran narkoba. Ia mendirikan CJNG sekitar tahun 2010 di negara bagian Jalisco, kemudian memperluas pengaruhnya secara agresif ke seluruh wilayah Meksiko melalui pertempuran sengit dengan kartel pesaing.
CJNG dikenal karena persenjataan militeristiknya dan dianggap sebagai salah satu geng kriminal paling kuat di kawasan. Pada tahun 2025, Amerika Serikat mengklasifikasikan CJNG sebagai organisasi teroris, menuduhnya terlibat dalam perdagangan manusia, pencurian minyak, pemerasan, serta penyelundupan kokain, metamfetamin, dan fentanil ke AS. Kartel ini juga bertanggung jawab atas lebih dari 75.000 kematian, menurut Program Data Konflik Universitas Uppsala, menjadikannya salah satu kelompok paling brutal di Meksiko.
Kementerian Luar Negeri AS sebelumnya menawarkan hadiah hingga 15 juta dolar AS untuk penangkapan El Mencho, yang selama bertahun-tahun berhasil menghindari penegakan hukum meskipun desas-desus tentang kematiannya sering beredar. Operasi penangkapan yang berujung pada kematiannya didukung oleh informasi intelijen dari otoritas AS.
Kronologi dan Respon Pasca-Kematian
Menurut pernyataan resmi, pasukan khusus Garda Nasional berupaya menangkap Oseguera di sebuah peternakan. Baku tembak tak terhindarkan, mengakibatkan tewasnya empat anggota kartel dan beberapa lainnya luka-luka. El Mencho dilaporkan terluka parah dan meninggal dunia dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Pasca-kematiannya, anggota CJNG melancarkan serangkaian aksi kekerasan terkoordinasi pada Minggu, 22 Februari 2026, di 20 dari 31 negara bagian Meksiko. Aksi tersebut meliputi pendirian barikade jalan dengan mobil yang dibakar, pelemparan bom molotov ke toko-toko, dan serangan terhadap pangkalan Garda Nasional. Otoritas negara bagian Jalisco mengumumkan siaga darurat dan membatalkan semua penerbangan internasional di bandara Puerto Vallarta, mendesak penduduk serta wisatawan untuk tetap berada di dalam ruangan.
Analisis Dampak Strategis dan Keamanan Regional
Pengalaman historis menunjukkan bahwa organisasi kriminal besar jarang bubar setelah kehilangan pemimpinnya. Dua skenario utama diprediksi akan terjadi: perebutan kekuasaan internal dalam CJNG untuk suksesi kepemimpinan, atau upaya kartel pesaing untuk merebut kendali atas wilayah kekuasaan CJNG. Kedua skenario ini secara konsisten memicu siklus kekerasan yang intens di masa lalu.
Eskalasi kekerasan ini, yang terjadi kurang dari empat bulan sebelum pertandingan Piala Dunia pertama, menimbulkan masalah signifikan bagi Meksiko sebagai salah satu negara tuan rumah. Langkah-langkah pengamanan di sekitar stadion kemungkinan besar perlu ditingkatkan secara drastis, dan kekhawatiran keamanan dapat mengurangi minat penggemar sepak bola untuk bepergian ke negara tersebut. Bahkan sebelum bentrokan terbaru, Meksiko telah dianggap sebagai negara paling tidak aman di antara tiga negara tuan rumah FIFA 2026.
Aksi kekerasan terkoordinasi dan jangkauan geografis yang luas, termasuk di tempat-tempat wisata populer seperti Puerto Vallarta dan Acapulco, menunjukkan tingkat kekuatan dan koordinasi yang jarang terlihat sebelumnya. Insiden ini mengingatkan pada pengepungan Culiacan tahun 2019, ketika Kartel Sinaloa berhasil membebaskan Ovidio Guzman, putra El Chapo, melalui teror dan penyanderaan massal.
Pergeseran Kebijakan Anti-Narkoba Meksiko
Tindakan tegas terhadap El Mencho ini sangat kontras dengan kebijakan “Pelukan, bukan tembakan” yang dianut oleh pemerintahan Presiden Andres Manuel Lopez Obrador (AMLO) dari tahun 2018 hingga 2024. Kebijakan tersebut gagal mengurangi angka pembunuhan, dengan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNDOC) mencatat lebih dari 30.000 pembunuhan per tahun di Meksiko antara tahun 2017 dan 2023.
Meskipun penerus AMLO, Claudia Sheinbaum, sebelumnya mengkritik “perang” melawan pengedar narkoba, militer Meksiko di bawah kepemimpinannya sejak akhir tahun 2024 telah menunjukkan pendekatan yang jauh lebih konfrontatif dan agresif terhadap kelompok kriminal. David Mora, analis Meksiko di International Crisis Group, menilai serangan terhadap El Mencho sebagai titik balik dalam strategi keamanan nasional Meksiko.
Para ahli mengaitkan kesediaan Meksiko untuk mengambil risiko peningkatan kekerasan saat ini dengan meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat. Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengancam akan mengerahkan militer AS melawan kartel-kartel di Meksiko jika negara tersebut tidak mengambil tindakan yang lebih tegas terhadap perdagangan narkoba lintas batas.
Analisis mengenai operasi penegakan hukum ini didasarkan pada pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Meksiko, laporan intelijen publik dari otoritas AS, dan data konflik dari Program Data Konflik Universitas Uppsala.