Militer Thailand dan pasukan Kamboja kembali terlibat insiden baku tembak di sepanjang garis perbatasan kedua negara pada Selasa, 24 Februari 2026. Insiden ini, yang dilaporkan terjadi di dekat Provinsi Sisaket, Thailand, menandai pelanggaran signifikan terhadap kesepakatan gencatan senjata yang baru disepakati pada Desember lalu, memicu kekhawatiran akan eskalasi ketegangan di Asia Tenggara.
Kronologi dan Klaim Awal
Menurut pernyataan resmi militer Thailand yang dirilis pada Selasa, insiden bermula ketika pasukan Kamboja melepaskan satu butir granat 40 mm ke arah patroli Thailand di provinsi perbatasan Sisaket pada Selasa pagi. Aksi ini segera memicu tembakan balasan dari pasukan Thailand menggunakan peluncur granat M79.
Juru bicara militer Thailand, Winthai Suvaree, menegaskan bahwa tindakan Kamboja tersebut merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri tiga minggu bentrokan mematikan pada akhir Desember. Pihak Thailand mengeklaim tidak ada personelnya yang terluka dalam insiden tersebut.
Suvaree menambahkan, “Penilaian awal menunjukkan bahwa insiden tersebut mungkin disebabkan oleh rotasi pasukan Kamboja, di mana personel baru kurang memahami peraturan dan kendali komando, sehingga mengakibatkan kekurangan operasional.” Sementara itu, Juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata, menolak memberikan komentar kepada AFP terkait insiden tersebut, menunjukkan kurangnya respons resmi dari Phnom Penh.
Akar Konflik dan Implikasi Regional
Konflik perbatasan antara Thailand dan Kamboja memiliki akar historis yang mendalam, berpusat pada perselisihan penetapan batas wilayah sepanjang 800 kilometer (500 mil) yang berasal dari era kolonial Prancis. Sengketa ini telah memicu serangkaian bentrokan sporadis selama beberapa dekade.
Tahun lalu, ketegangan di perbatasan sempat memuncak dalam beberapa bentrokan serius yang menewaskan puluhan orang, termasuk personel militer dan warga sipil, serta menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi dari zona konflik. Terulangnya insiden baku tembak ini berpotensi merusak upaya diplomatik yang telah dibangun dan kembali memicu krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Eskalasi di perbatasan ini juga memiliki implikasi signifikan terhadap stabilitas regional Asia Tenggara. Sebagai dua anggota kunci ASEAN, ketegangan yang berkelanjutan antara Thailand dan Kamboja dapat mengganggu kohesi regional dan menarik perhatian kekuatan eksternal, berpotensi mengubah dinamika keamanan di kawasan.
Analisis mengenai insiden perbatasan ini didasarkan pada pernyataan resmi militer Thailand yang dirilis pada Selasa, 24 Februari 2026, serta laporan dari kantor berita AFP. Ketiadaan komentar dari Kementerian Pertahanan Kamboja membatasi sinkronisasi klaim dari kedua belah pihak.