BAGHDAD – Kataeb Hezbollah, sebuah milisi Irak yang didukung Iran, pada Kamis, 26 Februari 2026, mengeluarkan instruksi kepada pasukannya untuk bersiap menghadapi potensi konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul di tengah peningkatan ketegangan regional dan manuver militer yang mengindikasikan eskalasi berbahaya di kawasan Teluk.
Langkah ini menyoroti peran kompleks aktor non-negara dalam dinamika kekuatan global serta potensi dampak strategis terhadap stabilitas Timur Tengah.
Peringatan dan Kesiapan Tempur
Dalam pernyataan resminya, Kataeb Hezbollah memperingatkan Washington mengenai potensi “kerugian besar” jika konfrontasi militer benar-benar pecah. “Di tengah ancaman Amerika dan peningkatan kekuatan militer yang menunjukkan eskalasi berbahaya di wilayah tersebut, perlu (bagi semua personel) untuk bersiap menghadapi potensi gesekan perang yang panjang,” demikian bunyi pernyataan kelompok tersebut, sebagaimana dikutip dari kantor berita AFP.
Seorang komandan faksi bersenjata tersebut menegaskan kepada AFP bahwa kelompoknya sangat mungkin akan campur tangan apabila Iran diserang, memandang Republik Islam Iran sebagai elemen strategis vital bagi kepentingan mereka sendiri. Serangan terhadap Iran, menurutnya, secara langsung mengancam eksistensi dan tujuan kelompok tersebut.
Berbeda dengan konflik 12 hari antara Israel dan Iran tahun lalu, di mana kelompok-kelompok bersenjata Irak yang dikenai sanksi AS tidak terlibat, komandan tersebut menyatakan bahwa kali ini sikap mereka bisa berbeda. Ia mengindikasikan bahwa kelompoknya tidak akan menahan diri, terutama jika serangan AS bertujuan untuk menggulingkan rezim di Teheran.
Dinamika Poros Perlawanan
Kataeb Hezbollah merupakan bagian integral dari “poros perlawanan” (axis of resistance), sebuah aliansi regional yang mencakup Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan kelompok Houthi di Yaman. Selama berbulan-bulan konflik Israel-Hamas di Gaza, kelompok-kelompok yang didukung Iran ini melancarkan serangkaian serangan terhadap pasukan AS di kawasan tersebut, serta beberapa upaya serangan terhadap Israel, meskipun banyak yang berhasil digagalkan.
Namun, tekanan yang meningkat dari Amerika Serikat dan desakan domestik di Irak telah menyebabkan penghentian serangan-serangan tersebut. Pada saat yang sama, seruan agar kelompok-kelompok bersenjata ini melucuti senjata juga semakin menguat.
Pekan ini, pejabat Hizbullah di Lebanon menyatakan kepada AFP bahwa kelompok tersebut tidak akan campur tangan secara militer jika terjadi serangan terbatas dari AS terhadap Iran. Meskipun demikian, Hizbullah akan menganggap setiap serangan terhadap pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai “garis merah” yang tidak dapat ditoleransi.
Latar Belakang Geopolitik dan Negosiasi Nuklir
Situasi ini diperparah oleh pengerahan kapal perang dan jet tempur oleh Presiden AS Donald Trump di dekat Iran. Langkah ini diambil sebagai bentuk dukungan terhadap ancaman serangan AS apabila negosiasi program nuklir Iran gagal mencapai kesepakatan yang memuaskan.
Pada Kamis, para negosiator AS dan Iran menggelar putaran ketiga pembicaraan mengenai program nuklir. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan kepada televisi pemerintah bahwa pembicaraan tersebut mengalami kemajuan yang “sangat baik”, meskipun rincian lebih lanjut belum diungkapkan.
Analisis mengenai kesiapan milisi dan dinamika regional ini didasarkan pada pernyataan resmi Kataeb Hezbollah yang dirilis pada 26 Februari 2026, laporan dari kantor berita AFP, serta pernyataan publik dari pejabat Kementerian Luar Negeri Iran dan Gedung Putih.