Analisis terbaru terhadap citra satelit mengungkapkan peningkatan aktivitas signifikan pada fasilitas nuklir rahasia China yang terletak di kawasan pegunungan Provinsi Sichuan. Perkembangan ini mengindikasikan percepatan modernisasi kekuatan strategis Beijing di tengah meningkatnya persaingan geopolitik global. Fokus utama pembangunan terdeteksi di Lembah Zitong dan Pingtong, yang diyakini sebagai pusat produksi komponen vital hulu ledak nuklir.
Eskalasi Infrastruktur di Lembah Zitong dan Pingtong
Laporan intelijen geospasial menunjukkan bahwa kompleks Pingtong, yang memiliki sistem pengamanan pagar ganda, telah menjalani renovasi besar-besaran. Fasilitas ini diidentifikasi oleh para ahli sebagai lokasi produksi inti hulu ledak nuklir berbasis plutonium. Struktur utama di lokasi tersebut kini dilengkapi dengan sistem ventilasi mutakhir dan penyebar panas baru, ditandai dengan cerobong setinggi 100 meter yang telah diperbarui.
Sementara itu, di Lembah Zitong, pembangunan bunker dan benteng baru dilaporkan tengah berlangsung. Para ahli menduga fasilitas ini digunakan untuk pengujian bahan peledak tinggi (high explosives) yang diperlukan guna memicu reaksi berantai pada senjata nuklir. Arsitektur kompleks ini menunjukkan kemiripan teknis dengan fasilitas pembuatan inti nuklir di Laboratorium Nasional Los Alamos, Amerika Serikat.
Proyeksi Kekuatan dan Kapabilitas Nuklir
Ekspansi ini sejalan dengan target ambisius China untuk memperkuat postur nuclear deterrence mereka. Berikut adalah proyeksi pertumbuhan hulu ledak nuklir China berdasarkan data departemen pertahanan:
| Tahun | Estimasi Jumlah Hulu Ledak | Status |
| 2024 | 600+ | Tercapai |
| 2030 | 1.000 | Proyeksi |
Meskipun jumlah ini masih di bawah total inventaris nuklir Amerika Serikat dan Rusia, kecepatan peningkatannya memicu kekhawatiran mengenai stabilitas strategis. Renny Babiarz, seorang ahli intelijen geospasial, menyatakan bahwa perubahan di lapangan menunjukkan evolusi yang semakin cepat sejak tahun 2019, memposisikan senjata nuklir sebagai bagian integral dari ambisi China menjadi adidaya global.
Dinamika Diplomasi dan Tuduhan Pelanggaran Moratorium
Washington melalui Wakil Menteri Luar Negeri untuk Pengendalian Senjata, Thomas G. DiNanno, secara terbuka menuduh Beijing melakukan uji coba bahan peledak nuklir secara rahasia yang melanggar moratorium global. Namun, tuduhan ini dibantah keras oleh pihak Beijing yang menegaskan bahwa pengembangan militer mereka bersifat defensif.
Ketegangan ini diperumit dengan keengganan China untuk terlibat dalam perjanjian kontrol senjata trilateral bersama AS dan Rusia. Para analis memperingatkan bahwa tanpa dialog formal, risiko salah kalkulasi strategis meningkat, terutama terkait potensi konflik di Selat Taiwan. Peningkatan kapasitas nuklir ini dianggap dapat mengubah perilaku Beijing dalam menghadapi krisis regional di masa depan.
Analisis mengenai pergerakan militer dan pengembangan infrastruktur strategis ini didasarkan pada data citra satelit komersial dan laporan analisis intelijen terbuka yang dihimpun hingga Februari 2026.