Pakistan melancarkan serangan udara intensif ke sejumlah kota besar di Afghanistan, termasuk Ibu Kota Kabul dan Kandahar, pada Jumat, 27 Februari 2026. Aksi militer ini menandai puncak eskalasi ketegangan berbulan-bulan antara kedua negara bertetangga, dengan Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan bahwa Islamabad dan Kabul kini berada dalam “perang terbuka”.
Laporan dari Kabul dan Kandahar mengindikasikan adanya ledakan dan aktivitas jet tempur hingga menjelang fajar. Insiden ini menyusul serangan Afghanistan terhadap pasukan perbatasan Pakistan pada Kamis malam, yang juga merupakan respons atas serangan udara sebelumnya oleh Islamabad.
Latar Belakang Eskalasi Konflik
Hubungan bilateral antara Pakistan dan Afghanistan telah memburuk secara signifikan sejak bentrokan mematikan pada Oktober 2025 yang menewaskan lebih dari 70 orang dari kedua belah pihak, menyebabkan penutupan sebagian besar perbatasan darat. Islamabad secara konsisten menuduh Kabul gagal mengambil tindakan tegas terhadap kelompok militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) yang melancarkan serangan di wilayah Pakistan.
Tudingan ini dibantah oleh otoritas Taliban di Afghanistan. Sejak Taliban kembali berkuasa di Kabul pada tahun 2021, TTP memang telah meningkatkan aktivitas militernya di perbatasan, memperparah ketegangan yang sudah ada.
Operasi Militer dan Klaim Pihak Bertikai
Serangan udara Pakistan pada Jumat pagi menargetkan Kabul dan Kandahar, basis kekuasaan otoritas Taliban di selatan. Di wilayah perbatasan Torkham, tembakan terdengar sekitar pukul 09.30 waktu setempat, dan sebuah kamp penampungan warga Afghanistan yang kembali dari Pakistan terdampak pertempuran pada malam sebelumnya. Qureshi Badlun, kepala informasi di Provinsi Nangarhar, melaporkan bahwa peluru mortir menghantam kamp, melukai tujuh pengungsi, dengan kondisi seorang wanita kritis.
Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengonfirmasi serangan udara Pakistan namun awalnya menyatakan tidak ada korban jiwa. Beberapa jam sebelumnya, Mujahid mengumumkan operasi ofensif skala besar di perbatasan sebagai tanggapan atas pelanggaran berulang oleh militer Pakistan. Kementerian Pertahanan Afghanistan kemudian melaporkan bahwa delapan tentaranya tewas dalam serangan darat tersebut. Mujahid juga mengklaim beberapa tentara Pakistan ditangkap hidup-hidup, klaim yang segera dibantah oleh kantor Perdana Menteri Pakistan.
Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, melalui platform X, menegaskan bahwa pertahanan Taliban Afghanistan menjadi target di Kabul, Paktia, dan Kandahar. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menekankan bahwa angkatan bersenjata negaranya memiliki kapabilitas penuh untuk menghancurkan ambisi agresif apa pun.
Analisis Strategis dan Respon Internasional
Pakar Asia Selatan, Michael Kugelman, menilai serangan terbaru ini sebagai eskalasi yang signifikan dan berbahaya. Ia mengamati bahwa Pakistan tampaknya memperluas targetnya dari TTP ke rezim Taliban itu sendiri, menandakan pergeseran strategis dalam pendekatan Islamabad.
Upaya mediasi untuk meredakan ketegangan telah dilakukan melalui beberapa putaran negosiasi, termasuk gencatan senjata awal yang dimediasi oleh Qatar dan Turkiye, namun gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang. Arab Saudi turun tangan pada bulan ini, berhasil memediasi pembebasan tiga tentara Pakistan yang ditangkap Afghanistan pada Oktober 2025. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan juga dilaporkan berbicara dengan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar pada Jumat, 27 Februari 2026. Iran, yang berbatasan dengan kedua negara, turut menawarkan diri untuk memfasilitasi dialog guna menyelesaikan konflik.
Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada laporan media independen, pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Pakistan dan otoritas Taliban Afghanistan, serta laporan intelijen publik yang dirilis pada 27 Februari 2026.