Internasional

Pakistan Luncurkan Serangan Udara Intensif ke Kabul, Nyatakan Perang Terbuka dengan Otoritas Taliban

Hubungan Pakistan dan Afghanistan mencapai titik kritis setelah militer Islamabad melancarkan serangan udara besar-besaran ke ibu kota Kabul dan sejumlah kota lainnya pada Jumat, 27 Februari 2026. Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, secara tegas menyatakan bahwa negaranya kini berada dalam fase “perang terbuka” dengan otoritas Taliban di Afghanistan, menyusul eskalasi konflik di perbatasan. Serangan ini memicu respons balasan dari pihak Afghanistan, meningkatkan kekhawatiran akan destabilisasi regional yang lebih luas.

Eskalasi Militer dan Klaim Pihak Bertikai

Serangan udara Pakistan dimulai pada Jumat dini hari, pukul 01.50 waktu setempat, menghantam Kabul dan disusul gelombang serangan kedua. Jet tempur Pakistan juga dilaporkan menargetkan basis militer di provinsi Kandahar dan Paktia. Menteri Informasi Pakistan, Attaullah Tarar, mengeklaim operasi tersebut berhasil menewaskan 133 milisi Taliban Afghanistan, merebut sembilan posisi, dan menghancurkan 27 lainnya.

Menanggapi agresi tersebut, pasukan anti-pesawat Afghanistan sempat melepaskan tembakan. Juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, mengonfirmasi peluncuran serangan balasan terhadap pangkalan militer Pakistan di wilayah Kandahar dan Helmand. Sumber militer Afghanistan mengeklaim, serangan balasan ini menewaskan 10 tentara Pakistan dan berhasil menguasai 13 pos penjagaan.

Pihak Afghanistan menegaskan bahwa tindakan mereka merupakan respons atas serangan Pakistan di wilayah perbatasan yang terjadi sebelumnya pada Minggu, 22 Februari 2026. Meskipun Pakistan mengeklaim serangan pada Minggu tersebut menewaskan 70 milisi, Afghanistan membantah dan menyebut bahwa korban yang jatuh adalah warga sipil.

Latar Belakang Ketegangan dan Tuduhan Proksi

Ketegangan di sepanjang perbatasan sepanjang 2.611 kilometer ini terus memburuk sejak pertempuran pada Oktober 2025 yang menewaskan lebih dari 70 orang dari kedua belah pihak. Pakistan secara konsisten menuduh Kabul membiarkan kelompok bersenjata, khususnya Tehrik-i-Taliban Pakistan (TTP), menggunakan wilayah Afghanistan sebagai basis untuk melancarkan serangan lintas batas ke wilayah Pakistan.

Menteri Pertahanan Asif menyatakan bahwa Pakistan telah melakukan segala upaya diplomatik untuk menjaga situasi tetap normal, baik melalui jalur langsung maupun negara-negara sahabat. Namun, ia menuduh Taliban telah menjadi “proksi” bagi India, rival utama Pakistan. “Pakistan telah menampung jutaan warga Afghanistan selama puluhan tahun. Namun, cawan kesabaran kami telah meluap. Sekarang adalah perang terbuka antara kami dan kalian,” tegas Asif, seperti dilansir Al Jazeera.

Implikasi Strategis dan Kedaulatan Teritorial

Eskalasi militer ini menandai pergeseran signifikan dalam dinamika keamanan regional, berpotensi memicu konflik yang lebih luas di Asia Selatan. Tuduhan Pakistan mengenai peran Taliban sebagai proksi India menambah kompleksitas geopolitik, mengindikasikan adanya persaingan pengaruh kekuatan regional di tengah konflik bilateral.

Kantor Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan bahwa seluruh rakyat dan angkatan bersenjata Pakistan bersatu untuk menjaga kedaulatan teritorial negara. “Tidak akan ada kelonggaran dalam membela tanah air tercinta, dan setiap agresi akan dibalas dengan respons yang setimpal,” demikian pernyataan resmi tersebut, menggarisbawahi komitmen Islamabad terhadap prinsip deterrence.

Analisis mengenai pergerakan militer ini didasarkan pada laporan koresponden Al Jazeera di Kabul, pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Pakistan, dan klaim dari juru bicara pemerintah Afghanistan yang dirilis pada Jumat, 27 Februari 2026.